Havel dan Kafka,
Paul David Hewson alias Bono tak henti membetot perhatian. Sejak pertengahan Januari 2009, kolom-kolom vokalis U2 ini bisa dinikmati di The New York Times. Tentu, ini bukan kali pertama Bono menulis. Dalam beberapa edisi Rolling Stone, ia juga diminta menyumbang esai. Bahkan, ia menyusun kata pengantar untuk buku Jeffrey D. Sach, The End of Poverty (2005).
Pada kolom pertamanya di Times, agak di luar dugaan, ia tak berkisah soal konflik Palestina-Israel, krisis ekonomi global, atau kehadiran Barack Obama di pentas politik Amerika. Alih-alih demikian, ia menulis tentang Frank Sinatra: perjumpaan dan kekagumannya pada penyanyi legendaris tersebut. Read the rest of this entry »