<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>cerita buat havel dan kafka</title>
	<atom:link href="http://blogyusariyanto.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blogyusariyanto.wordpress.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Mon, 26 Oct 2009 15:52:00 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='blogyusariyanto.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/54ec1f10094deb1d3f21bfd0490d7a6d?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>cerita buat havel dan kafka</title>
		<link>http://blogyusariyanto.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>jayakatwang</title>
		<link>http://blogyusariyanto.wordpress.com/2009/10/08/jayakatwang/</link>
		<comments>http://blogyusariyanto.wordpress.com/2009/10/08/jayakatwang/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Oct 2009 15:49:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yus ariyanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogyusariyanto.wordpress.com/?p=388</guid>
		<description><![CDATA[Kemenangan yang digenggam cuma sejenak membuat Jayakatwang girang. Selebihnya, gundah berkepanjangan. Demikian Arswendo Atmowiloto mengisahkan dalam Senopati Pamungkas yang pertama kali muncul pada 1984.
Jayakatwang pun memanggil Ugrawe, sang patih-cum-jago silat nomor wahid, dan Rawikara, putra mahkotanya. “…sebentar lagi aku berada di singgasana ini selama seratus hari. Masih saja belum hilang bayangan yang mengerikan. Mayat-mayat berjatuhan, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=blogyusariyanto.wordpress.com&blog=378454&post=388&subd=blogyusariyanto&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Kemenangan yang digenggam cuma sejenak membuat Jayakatwang girang. Selebihnya, gundah berkepanjangan. Demikian Arswendo Atmowiloto mengisahkan dalam <em>Senopati Pamungkas</em> yang pertama kali muncul pada 1984.</p>
<p>Jayakatwang pun memanggil Ugrawe, sang patih-<em>cum</em>-jago silat nomor wahid, dan Rawikara, putra mahkotanya. “…sebentar lagi aku berada di singgasana ini selama seratus hari. Masih saja belum hilang bayangan yang mengerikan. Mayat-mayat berjatuhan, banjir darah, erangan orang-orang yang kuhormati lahir-batin…Kadang aku berpikir sendiri, apakah tindakan yang kulakukan bukan suatu kekeliruan yang bakal dikutuk anak cucuku besok,” ujar raja itu. <span id="more-388"></span></p>
<p>Sejatinya, ia tak merasa bersalah dengan aksinya merebut tahta Singasari dari Kertanegara. &#8220;Aku merasa di pihak yang benar. Meluruskan kembali sejarah raja-raja di tanah Jawa yang menguasai dunia. Mengembalikan ke jalan yang lurus, yang direstui dewa&#8230;Jalan inilah yang kutempuh, &#8221; ujar Jayakatwang.</p>
<p>Kitab sejarah dibuka dikembali. Arok mengoyak kekuasaan Kertajaya di Kediri dan mendirikan Singasari. Dalam perjalanan waktu, Arok pun tumpas oleh Anusapati, anak Tunggul Ametung-Ken Dedes. Anusapati adalah leluhur Kertanegara. Sementara, Jayakatwang adalah keturunan Kertajaya. Kenyataan ini membuat Jayakatwang merasa punya hak menggelar kudeta.</p>
<p>Proyek penumpasan orang-orang Kertanegara yang membuat Jayakatwang murung. Maka ia bertitah, &#8220;Kepada Paman Ugrawe, aku menganjurkan agar segala pertumpahan darah, segala balas dendam dihapuskan. Yang sudah, ya, sudah. Gelombang laut pun ada saatnya untuk surut kembali…Pertumpahan darah dan pembunuhan, balas dendam, bukan tujuanku. Bukan tujuan kita semua.&#8221;</p>
<p>(Saya menduga, Arswendo &#8220;terkenang&#8221; pembunuhan massal orang-orang PKI, atau yang dituduh terkait partai tersebut, pada 1965-1966. Meski, tak ada bukti secuil juga bahwa Soeharto adalah &#8220;Jayakatwang&#8221; pada masa itu.)</p>
<p>Kendati keberatan, Ugrawe tak punya pilihan. Namun, ia tak lantas hilang siasat. Kepada Rawikara, setelah mereka undur, Ugrawe bilang, &#8220;Ya. Aku akan membebaskan sesuai <em>dawuh</em>, sesuai perintah Raja. Yang tidak kujanjikan, yang tidak ada dalam perintah Raja ialah aku membebaskan semuanya dalam keadaan sebagaimana adanya.&#8221;</p>
<p>Dan, darah tetap mengalir. Dan, Jayakatwang hanya berkibar sebentar. Intrik di lingkungan keraton turut mempercepat kemakzulannya. Intrik di antara orang-orang yang haus darah&#8230;</p>
<p><em>Cinere, 7 Oktober 2009</em></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/blogyusariyanto.wordpress.com/388/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/blogyusariyanto.wordpress.com/388/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/blogyusariyanto.wordpress.com/388/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/blogyusariyanto.wordpress.com/388/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/blogyusariyanto.wordpress.com/388/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/blogyusariyanto.wordpress.com/388/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/blogyusariyanto.wordpress.com/388/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/blogyusariyanto.wordpress.com/388/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/blogyusariyanto.wordpress.com/388/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/blogyusariyanto.wordpress.com/388/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=blogyusariyanto.wordpress.com&blog=378454&post=388&subd=blogyusariyanto&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogyusariyanto.wordpress.com/2009/10/08/jayakatwang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/289556a14fe9cc5ee0d87f32a2046b60?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yus ariyanto</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>tepi-tepimu, leo&#8230;</title>
		<link>http://blogyusariyanto.wordpress.com/2009/08/12/tepi-tepimu-leo/</link>
		<comments>http://blogyusariyanto.wordpress.com/2009/08/12/tepi-tepimu-leo/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Aug 2009 14:18:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yus ariyanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogyusariyanto.wordpress.com/?p=380</guid>
		<description><![CDATA[Setiyadi tergolong penggemar berat Leo Kristi. Manajer di perusahaan multinasional di Jakarta ini mulai mengenal Leo pada 1978, saat duduk di bangku SMP. Anak sulungnya diberi nama Amanda Katia Khairunnisa. Jika ingat lagu Katia, Amanda, dan Aku di album Nyanyian Fajar, niscaya kita mafhum sumber inspirasi Adi, panggilan akrab Setiyadi.
Lihat menara mercu
Tinggal siluet
Tepat di balik [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=blogyusariyanto.wordpress.com&blog=378454&post=380&subd=blogyusariyanto&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Setiyadi tergolong penggemar berat Leo Kristi. Manajer di perusahaan multinasional di Jakarta ini mulai mengenal Leo pada 1978, saat duduk di bangku SMP. Anak sulungnya diberi nama Amanda Katia Khairunnisa. Jika ingat lagu <em>Katia, Amanda, dan Aku</em> di album <em>Nyanyian Fajar</em>, niscaya kita mafhum sumber inspirasi Adi, panggilan akrab Setiyadi.</p>
<p><em>Lihat menara mercu<br />
Tinggal siluet<br />
Tepat di balik kubah, matahari jatuh<br />
Seratus burung melayang<br />
Katia, Amanda, dan aku&#8230;</em></p>
<p>Leo juga sempat tinggal beberapa pekan di rumah Adi di Jatiasih, Bekasi, Jawa Barat. &#8220;Kawasan rumah saya yang mungkin tak banyak orang tahu itu ternyata membuat Leo betah. Komentarnya sepele: rimbun ya, hijau&#8230;daerah sini,&#8221; tulisnya di <em>mailing list</em> para penggemar Leo Kristi itu. Para fans tersebut menyebut diri &#8220;LKers.&#8221; Di sana, secara berseloroh, sejumlah anggota menabalkan Adi sebagai &#8220;Ketua Dewan Syuro&#8221; LKers. <span id="more-380"></span></p>
<p>Adi tak seorang diri. Ada para penghuni <em>mailing list </em>lain yang menyimpan &#8220;cinta keras kepala&#8221; kepada karya Leo. Bukan kepada orangnya. Intensitas penghayatan dan kecerdasan mereka dalam menginterpretasi lagu-lagu Leo, sebagaimana saya intip, membikin nyali saya susut. Mereka guyub membahas karya Leo yang kerap didentikkan dengan elan patriotisme, suara kaum papa, dan cinta yang tak meratap-ratap.</p>
<p>2.<br />
Pada 8 Agustus lalu, Leo genap 60 tahun. Tak muda lagi. Tapi, ia belum &#8220;mati.&#8221; Persis pada hari kemerdekaan Indonesia ke-64, ia akan kembali menyanyi di depan publik. Tepatnya, di Taman Ismail Marzuki. Saya membayangkan: ia menyandang gitar, sebelah kaki naik ke tong, dan mengucapkan &#8220;Permisi…&#8221; tiap kali hendak memulai nyanyi.</p>
<p>Pertunjukan itu gratis. Saat Leo tampil pada 20 Mei 2008, penonton juga tak perlu membayar. Sebab, para LKers saweran. Besarnya beraneka, dari Rp 100 ribu hingga Rp 10 juta. Total biaya yang dibutuhkan sekitar Rp 61 juta. Dengan saweran ini, tak perlu lagi mengutip uang tiket ke penonton.</p>
<p>(Uh, saya mendadak gerah saat teringat lagi &#8220;kecentilan&#8221; Leo pada konser Mei 2008 itu: helm hijau, jaket merah jambu, celana putih.)</p>
<p>Konser pekan depan membuat saya penasaran. Tak ada saweran. Saya sempat <em>chatting</em> dan bertanya ke Adi, “Mas, siapa yang membiayai?”</p>
<p>&#8220;Wah, rahasia..he..he&#8230;saya gak bisa memberi tahu.&#8221; Kira-kira begitu jawaban Adi. Saya membatin, pasti ada penggemar yang kelebihan duit dan ingin &#8220;membuangnya&#8221; di TIM.</p>
<p>Pada 1970-an, TIM bukan tempat asing buat Leo di hari kemerdekaan. Selama tiga tahun berturut-turut (1976, 1977, 1978), Leo mengisi acara 17-an di TIM. Menurut beberapa bacaan, penonton berjubel. Leo, meski tak sangat populer, punya segmen penggemar sendiri.</p>
<p>Kini, lebih dari 30 tahun kemudian, ia bakal hadir lagi lagi. Di <em>mailing list</em> para penggemar Leo itu, Adi menulis, “Kabarnya Sang Maestro sedang berlatih di Bali…Kabarnya seorang Indian Amerika ikut bermain musik bersamanya.”</p>
<p>Leo bersiap? Banyak orang tahu, Leo terlalu jauh dari tertib. Buat sebagian orang, ini menjengkelkan. Saya kutip ulasan di <em>Kompas</em> pada 8 Mei 2005: &#8220;Benar pula dugaan banyak orang, tepatnya penonton setianya, Leo pasti tampil semaunya. Ia tak pernah melakukan persiapan, semisal mengatur <em>sound system</em> agar tak mendengung atau menyetem gitarnya sebelum naik pentas, sehingga ia tak perlu harus mengulanginya setiap usai membawakan satu lagu.&#8221; Tulisan itu menyorot pentas berjudul &#8220;Puisi Gelap&#8221; yang juga digelar di TIM.</p>
<p>Gaya &#8220;seenaknya&#8221; Leo sudah tersiar sejak lama. Ini seperti melengkapi pilihannya sebagai pengembara. Jarang tinggal lama di sebuah tempat. &#8220;Bagiku kreativitas adalah keluyuran dan perjalanan dalam berkesenian,&#8221; katanya dalam sebuah wawancara dengan majalah <em>Jakarta-Jakarta</em> pada 1992.</p>
<p>Dari perjalanan itu lahirlah lagu semacam <em>Lewat Kiaracondong</em>. Kiaracondong adalah sebuah nama kawasan di Bandung, Jawa Barat. Pakar komunikasi Jalaluddin Rakhmat bermukim di salah satu sudutnya. Kini, daerah itu merupakan kawasan padat penduduk. Tapi, pada akhir 1970-an, Kiaracondong, “…masih banyak sawah, banyak anak-anak…,” kata Leo. Ia menulis lirik:</p>
<p><em>Lewat Kiara Condong, kereta laju<br />
Seorang gadis telanjang dada<br />
Basah rambutnya berkeramas<br />
Sempat kulihat tisik kainnya<br />
Di balik dinding bambu<br />
Reyot dan tak beratap</em></p>
<p>Perjalanan juga membuatnya menciptakan <em>Pojok Kafe Simpang Lima</em> yang ditaruh di album <em>Nyanyian Cinta</em>. Ini petikannya:</p>
<p><em>Pojok kafe Simpang Lima<br />
Sepanjang sore dan petang hari<br />
Kaki kima dan rumput kota<br />
Semarang</em></p>
<p><em>Pojok kafe Simpang Lima<br />
Masihkah hangat seperti dulu<br />
Kembang senyum, kembang hatikah kini?</em></p>
<p>3.<br />
Surabaya adalah tanah kelahirannya. Untuk tanah kelahiran itu, lahir beberapa lagu. Salah satunya adalah <em>Tepi Surabaya</em> di album <em>Nyanyian Tanah Merdeka</em>. Dengan aransemen yang didominasi gitar dan piano, lagu ini begitu menggetarkan.</p>
<p><em>Tepi-tepimu oh, Surabaya<br />
Gelap turun bagi jalan perempuan tua<br />
Nenek bukalah pintu yang kuketuk<br />
Tapi tidak dengan airmatamu<br />
Hidup selalu berubah<br />
Lewat pasang-surut Kali Mas</em></p>
<p>Leo lahir pada 8 Agustus 1949, sebagai kedua dari enam bersaudara keluarga Raden Ngabehi Bono Imam Soebiantoro dan Raden Ajeng Roekmi Idayati. Sejak kecil, Leo sudah akrab dengan musik.</p>
<p>Setiap pagi, dari kamar sang ayah yang seorang pegawai negeri sekaligus musisi, selalu mengalun musik. Saat SD, Leo belajar di sekolah Kristen. Ia suka ikut kegiatan menyanyi di gereja meski beragama Islam. Minat ke musik kian menjadi-jadi saat sang ayah menghadiahkannya gitar. Ia mengikuti kursus musik dasar pada Tino Kerdjik; belajar gitar pada Poei Sing Gwan dan Oie Siok Gwan.</p>
<p>Untuk urusan menyanyi, ia menemui Nuri Hidayat dan John Topan. Di SMA I Surabaya, ia tak lepas dari kewajiban berbaris dan menyanyikan lagu-lagu perjuangan di bawah Tugu Pahlawan &#8212; atas ketentuan kepala sekolah yang patriotismenya menggebu-gebu. &#8221;Tiap minggu bisa tiga sampai empat kali,&#8221; ujar Leo.</p>
<p>Seusai remaja, sekolahnya berantakan. Leo tak kelar kuliah di jurusan arsitektur ITS. Cuma sampai tingkat II. Tapi, itu tak pernah terlalu disesalinya. Ia memilih musik. Pernah bergabung dengan almarhum Gombloh di Lemon Trees, namun kemudian membangun kelompok Konser Rakyat Leo Kristi.</p>
<p>Kepada majalah GADIS pada 1978, Leo mengaku sebagai pengagum komponis WR Soepratman, terutama karena lagu <em>Indonesia Raya</em>. Ia berkata, &#8221; Saya selalu gemetar tatkala mendengar lirik dan melodi lagu pembakar dada ini: <em>Bangunlah Jiwanya, Bangunlah badannya</em>. Lagu satu ini bukan main hebatnya!&#8221;</p>
<p>Catatan diskografi Leo dimulai pada 1975 ketika meluncurkan album <em>Nyanyian Fajar</em> yang produksinya dibantu majalah <em>Aktuil</em> di bawah pimpinan Remy Sylado. Kemudian, Leo merilis <em>Nyanyian Malam</em> (1976), <em>Nyanyian Tanah Merdeka</em> (1977), <em>Nyanyian Cinta</em> (1978), <em>Nyanyian Tambur Jalanan</em> (1980), <em>Diapenta Anak Merdeka</em> (1982), <em>Lintasan Hijau Hitam</em> (1984), <em>Biru Emas Bintang Tani</em> (1985,  yang gagal beredar), <em>Catur Paramita</em> (1993), dan <em>Tembang Lestari</em> (1995, direkam pada CD terbatas).</p>
<p>4.<br />
Penyanyi balada legendaris,  Bob Dylan, merilis album ke-44 bertajuk <em>Modern Times</em> pada Agustus 2006. Usianya 65 di tahun itu, lebih tua ketimbang Leo di 2009. Soal produktivitas, Dylan jauh lebih kencang berlari.</p>
<p>Leo memang lemah dalam produktivitas. Pada konser pekan depan, yang didendangkannya (sebagian besar) pasti karya-karya lama. Tapi, sejak dulu, ia sudah menyimpan argumentasi soal ini. Kepada tabloid <em>Monitor</em> (1988), ia bilang, ” Bagi saya, risi rasanya jika saya harus mengulang seperti lagu yang melejit.&#8221; Leo memang tak mau melakukan itu karena, menurutnya, untuk membuat satu lagu dibutuhkan perenungan yang dalam. &#8220;Kalau saya ingin menceritakan kehidupan suatu masyarakat, saya harus tahu benar mereka,&#8221; tambahnya.</p>
<p>Meski saat muda juga sering mendengarkan Dylan, Leo mengaku lebih &#8220;dekat&#8221; dengan Woody Guthrie (1912-1967), penyanyi balada yang sangat dihormati. Kepada <em>Jakarta-Jakarta</em>, Leo berkata, “Yang namanya Bob Dylan lebih dikenal daripada Woody Guthrie&#8230;Yang terkenal Bob Dylan. Padahal, penyanyi dan penyair jalanan itu sendiri si Woody Guthrie, yang dikagumi Bob Dylan. Dia kan gurunya Bob Dylan.”</p>
<p>Leo pun punya pengagum. Tak banyak. Anggota <em>mailing list</em> itu hanya 412 orang. Dengan dosis kekaguman berbeda-beda. Dengan impresi yang beraneka pula. Dalam secarik <em>note</em> di Facebook, Adi menulis, “Mendengar Leo bernyanyi seperti merasakan keindahan daun-daun jatuh berguguran di musim semi. Semua aspek kehidupan dikupas satu per satu dalam tempo lambat dengan penuh nada keindahan.”</p>
<p>Berbeda dengan Adi, saya tak piawai mendedahkan keindahan Leo. Saya hanya ingat keindahan <em>Tembang Lestari</em> yang dibawakan Jockie Suryoprayogo dan Berlian Hutauruk di Bentara Budaya, Juni silam. Inilah petikan keindahan, dari sekian banyak keindahan yang pernah dibikin Leo, itu:</p>
<p><em>Cinta&#8230;<br />
Gelombang kasih nan tulus<br />
Hingga usia tengah abad<br />
Selebihnya hanya kau yang tahu<br />
Memelihara agar tetap hijau, dalam kebiruan<br />
tetap hijau, dalam kebiruan</em></p>
<p><em><br />
</em></p>
<p>Cinere, 11 Agustus 2009</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/blogyusariyanto.wordpress.com/380/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/blogyusariyanto.wordpress.com/380/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/blogyusariyanto.wordpress.com/380/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/blogyusariyanto.wordpress.com/380/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/blogyusariyanto.wordpress.com/380/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/blogyusariyanto.wordpress.com/380/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/blogyusariyanto.wordpress.com/380/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/blogyusariyanto.wordpress.com/380/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/blogyusariyanto.wordpress.com/380/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/blogyusariyanto.wordpress.com/380/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=blogyusariyanto.wordpress.com&blog=378454&post=380&subd=blogyusariyanto&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogyusariyanto.wordpress.com/2009/08/12/tepi-tepimu-leo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/289556a14fe9cc5ee0d87f32a2046b60?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yus ariyanto</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>pulung</title>
		<link>http://blogyusariyanto.wordpress.com/2009/07/29/pulung/</link>
		<comments>http://blogyusariyanto.wordpress.com/2009/07/29/pulung/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Jul 2009 14:20:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yus ariyanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogyusariyanto.wordpress.com/?p=382</guid>
		<description><![CDATA[Punya tokoh fiksi “berpengaruh” dari masa bocah? Saya punya. Bukan, bukan para anggota Trio Detektif atau Lima Sekawan karya Enid Blyton. Tokoh saya adalah Pulung. Ini karakter rekaan Bung Smas, yang sempat tampil dalam tujuh buku di serial Pulung.
Saya lupa kapan dan bagaimana persisnya mengetahui keberadaan tokoh ini. Tapi, masih tertancap di ingatan soal kapan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=blogyusariyanto.wordpress.com&blog=378454&post=382&subd=blogyusariyanto&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Punya tokoh fiksi “berpengaruh” dari masa bocah? Saya punya. Bukan, bukan para anggota Trio Detektif atau Lima Sekawan karya Enid Blyton. Tokoh saya adalah Pulung. Ini karakter rekaan Bung Smas, yang sempat tampil dalam tujuh buku di serial <em>Pulung</em>.</p>
<p>Saya lupa kapan dan bagaimana persisnya mengetahui keberadaan tokoh ini. Tapi, masih tertancap di ingatan soal kapan dan bagaimana memperolehnya pertama kali. Itu terjadi seusai saya dikhitan. Bapak memberikan sejumlah uang sebagai hadiah. Saya langsung <em>ngacir</em> ke Gramedia Blok M. Naik Metro Mini. Itu di pertengahan 80-an dan saya masih bercelana pendek merah saat pergi ke sekolah.</p>
<p>Pulung adalah seorang anak desa. Ketika buku pertama terbit, Pulung duduk di kelas VI. Dalam buku-buku berikutnya, ia sudah di bangku SMP. Dia diceritakan terbilang kuntet, dengan rambut kaku bak ijuk. Tampaknya ia tinggal di pinggiran Pekalongan atau Pemalang, Jawa Tengah. Bung Smas kerap menyebut PK dan PM untuk menunjuk nama kota. Keduanya dikesankan berdekatan.<span id="more-382"></span></p>
<p>Ayah Pulung seorang pejabat desa, <em>kabayan</em>, atau Pak Bayan. Ibunya mengajar di sebuah taman kanak-kanak. Sifat ayahnya keras bukan kepalang, sang ibu sungguh lemah lembut. Pulung itu sulung dari dua bersaudara. Si bungsu bernama Polan. Berbeda dengan sang kakak yang jagoan, Polan cenderung culun. Karakterisasi ini terbangun kuat dan menambah solid kisah yang terjalin.</p>
<p>Kepiawaian Pulung bersilat menjadi bumbu utama kisah. Sang pengarang bilang, Pulung mengaji pada seorang guru. Wak Solikun namanya. Setiap selesai satu juz Al Quran, Wak Solikun mengajarinya satu jurus silat.</p>
<p>Dengan kemampuan silat itu, makin mudah bagi cerita untuk masuk ke <em>genre</em> detektif. Dengan kecerdasan, kekurangajaran, dan kemampuan berkelahi, Pulung menyelidiki sejumlah kasus. Dilihat dari kacamata kaum dewasa, mungkin agak menggelikan. Namun, buat anak-anak seperti saya saat itu, <em>Pulung</em> begitu memikat.</p>
<p>Jika meminjam pikiran Marshall McLuhan yang telah jadi klasik, buku (dan media cetak lain)  termasuk <em>hot media</em>. Akan halnya film, tergolong <em>cold media</em>. Ragam <em>cold media</em> cenderung &#8220;otoritarian&#8221; lewat tampilan visualnya, sementara <em>hot media</em> lebih &#8220;partisipatoris.&#8221; Dalam <em>Pulung</em>, imajinasi mendapat ruang lapang: kehidupan desa yang eksotis, dunia seorang anak yang pandai silat, ketegangan saat bertualang.</p>
<p>Bukan hanya <em>bak-bik-buk</em>. Di sana-sini, taburan humor membuatnya gurih. Beberapa di antaranya mencuat karena kesenjangan sosial-ekonomi para tokoh serta &#8220;jarak budaya&#8221; antara desa dan kota. Lihat Polan yang bingung setengah mati saat diajak <em>jogging</em> oleh teman barunya yang tajir dan tinggal di kota. Bukan apa-apa, ia bahkan tak tahu makhluk seperti apa <em>jogging</em> itu. Mau tanya, malu.</p>
<p>Saya juga malu pada diri sendiri karena tak apik menata koleksi. Buku dari serial <em>Pulung</em> tinggal satu: <em>Dua Penculikan</em>. Yang lain, raib entah ke mana. Pekan silam, di kios buku bekas Pasar Modern BSD City, saya menemukan satu lagi: <em>Mencari Nansy</em>. Saya menanam mimpi: suatu saat semua edisi <em>Pulung</em> bisa hadir kembali. Dengan bantuan Internet, saya percaya keinginan itu gampang terpenuhi. Biar anak-anak saya bisa menikmati juga.</p>
<p>Meski ini kisah buat para bocah, saya menangkap juga &#8220;aspirasi&#8221; mereka untuk para orang tua. Satu yang paling membekas: diceritakan bahwa Pak Bayan tak pernah mengusap kepala Pulung. Padahal, “Alangkah ingin Pulung merasakan usapan tangan Bapak di kepalanya. Tetapi Bapak tidak pernah mengusap kepala si sulung. Bapak hanya mau mengusap kepala Polan” (<em>Dua Penculikan</em>, hal.116). Sekarang, saban mengusap kepala anak, entah si sulung maupun si bungsu, saya teringat kalimat-kalimat itu.</p>
<p>Membaca <em>Pulung</em>, saya terhibur. Pun memetik pelajaran yang tetap relevan sampai kini, saat telah menjadi ayah dua bocah lelaki sebagaimana Pak Bayan. <em>Matur nuwun</em>, Bung Smas.</p>
<p><em>Cinere, 29 Juli 2009</em></p>
<p>NB: Bung Smas pasti bukan nama asli. Sampai sekarang saya tak tahu siapa dia sesungguhnya. Saya juga tak tahu alasannya menggunakan nama samaran. Bukankah dia tak menulis karya semacam <em>Langit Makin Mendung</em> yang membuat penulisnya mesti memakai nama pena?!</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/blogyusariyanto.wordpress.com/382/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/blogyusariyanto.wordpress.com/382/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/blogyusariyanto.wordpress.com/382/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/blogyusariyanto.wordpress.com/382/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/blogyusariyanto.wordpress.com/382/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/blogyusariyanto.wordpress.com/382/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/blogyusariyanto.wordpress.com/382/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/blogyusariyanto.wordpress.com/382/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/blogyusariyanto.wordpress.com/382/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/blogyusariyanto.wordpress.com/382/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=blogyusariyanto.wordpress.com&blog=378454&post=382&subd=blogyusariyanto&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogyusariyanto.wordpress.com/2009/07/29/pulung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/289556a14fe9cc5ee0d87f32a2046b60?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yus ariyanto</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>rendra</title>
		<link>http://blogyusariyanto.wordpress.com/2009/07/13/rendra/</link>
		<comments>http://blogyusariyanto.wordpress.com/2009/07/13/rendra/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Jul 2009 14:21:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yus ariyanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogyusariyanto.wordpress.com/?p=384</guid>
		<description><![CDATA[/1./
Ingatannya menjulur ke masa remaja. Sejumlah teman menyajikan Blues untuk Bonnie buat  pementasan di sekolah. Tentu, itu karya Rendra. Seorang teman bergitar dan mengalunkan irama blues. Jreng&#8230;
&#8220;Kota Boston lusuh dan layu
kerna angin santer, udara jelek,
dan malam larut yang celaka.
Di dalam cafe tua itu
seorang penyanyi negro tua
bergitar dan bernyanyi.&#8221;
/2./
Saat nongkrong, di trotoar Bulungan, seorang teman [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=blogyusariyanto.wordpress.com&blog=378454&post=384&subd=blogyusariyanto&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>/1./<br />
Ingatannya menjulur ke masa remaja. Sejumlah teman menyajikan <em>Blues untuk Bonnie</em> buat  pementasan di sekolah. Tentu, itu karya Rendra. Seorang teman bergitar dan mengalunkan irama blues. Jreng&#8230;</p>
<p><em>&#8220;Kota Boston lusuh dan layu<br />
kerna angin santer, udara jelek,<br />
dan malam larut yang celaka.<br />
Di dalam cafe tua itu<br />
seorang penyanyi negro tua<br />
bergitar dan bernyanyi.&#8221;</em><span id="more-384"></span></p>
<p>/2./<br />
Saat nongkrong, di trotoar Bulungan, seorang teman menyanyikan <em>Willy</em>. Ia akhirnya tahu: lagu itu adalah cara Iwan Fals menyampaikan respek buat Rendra.</p>
<p><em>&#8220;Si anjing liar dari Jogjakarta<br />
Apa kabarmu?<br />
Kurindu gonggongmu<br />
Yang keras hantam cadas&#8221;</em></p>
<p>Bertahun-tahun kemudian, Iwan bekerja sama dengan Rendra. Bersama sejumlah figur lain. Mereka membentuk Kantata Takwa. Lumayan bikin gempar. Jejaknya panjang.</p>
<p>/3./<br />
Pertengahan 1990-an. Tak lagi remaja. Di Gramedia Jalan Merdeka Bandung, ia mencomot <em>Mempertimbangkan Tradisi.</em> Harganya Rp 2.500. Di situ, Rendra menulis, &#8220;Di rumah atau di sekolah anak-anak diajarkan bahwa kebajikan tertinggi itu: kepatuhan. Kesangsian kreatif yang mungkin berakibat perombakan dianggap sebagai kemunafikan.&#8221;</p>
<p>/4./<br />
Di Cikapundung, dalam dingin yang menggigit, ia memungut <em>Horison</em> No. 11/1982. Di sana, dimuat hasil wawancara pelukis Hardi dengan Rendra. Ini kutipan omongan Rendra, &#8220;Apa memangnya kalau banyak pengangguran di sekeliling kita, kalau banyak orang tidur di bawah jembatan, ada begitu banyak kenyataan-kenyataan yang tak bisa dipublikasikan di koran, terus kita bersajak tentang rembulan, tentang anggur&#8230;&#8221;</p>
<p>Ia pun menonton aksi penyair itu dalam <em>Yang Muda Yang Bercinta</em> karya Sjuman Djaya. Rendra membacakan sajak-sajak protes.</p>
<p>/5./<br />
Saat masa remaja telah begitu jauh, ia mememergoki Rendra di acara penghargaan Achmad Bakrie Award 2006. Untuk mempertanggung jawabkan penganugerahan buat Sang Burung Merak, Freedom Institute menyusun risalah pendek&#8211;ia menduga, sang penulis adalah Nirwan Dewanto. Petikannya, &#8220;Demikianlah, lebih dari setengah abad kiprah perpuisian Rendra senantiasa menunjukkan jalan lain perpuisian Indonesia. Ketika mayoritas penyair lain terpukau berlebihan pada lirisisme&#8211;dan kerap terjatuh pada puisi semu dan gelap&#8211;Rendra menulis puisi naratif dengan bahasa yang penuh hiasan dan pendar-pendar.&#8221;</p>
<p>/6./<br />
Di tengah hiruk-pikuk pemilu 2009, ia menemukan Rendra yang menyatakan diri mendukung Megawati Soekarnoputri-Prabowo Subianto. &#8220;Saya memilih Mega dan Prabowo karena keduanya anti-ekonomi asing,&#8221; kata Rendra sebagaimana dikutip <em>Tempointeraktif.</em> Duh&#8230;</p>
<p>/7./<br />
Kini, ia mendengar, Rendra jatuh sakit. Semoga lekas sembuh, Oom Willy.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/blogyusariyanto.wordpress.com/384/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/blogyusariyanto.wordpress.com/384/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/blogyusariyanto.wordpress.com/384/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/blogyusariyanto.wordpress.com/384/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/blogyusariyanto.wordpress.com/384/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/blogyusariyanto.wordpress.com/384/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/blogyusariyanto.wordpress.com/384/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/blogyusariyanto.wordpress.com/384/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/blogyusariyanto.wordpress.com/384/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/blogyusariyanto.wordpress.com/384/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=blogyusariyanto.wordpress.com&blog=378454&post=384&subd=blogyusariyanto&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogyusariyanto.wordpress.com/2009/07/13/rendra/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/289556a14fe9cc5ee0d87f32a2046b60?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yus ariyanto</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>mayestik</title>
		<link>http://blogyusariyanto.wordpress.com/2009/05/11/mayestik/</link>
		<comments>http://blogyusariyanto.wordpress.com/2009/05/11/mayestik/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 May 2009 16:26:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yus ariyanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogyusariyanto.wordpress.com/?p=375</guid>
		<description><![CDATA[Havel dan Kafka,
/1./
Matahari belum sepenuh hati memamerkan diri. Tapi, muncul hasrat mendesak-desak untuk segera dilunasi. Tiba-tiba, aku ingat Pasar Mayestik. Arloji menunjukkan pukul 08.10, saat aku memarkir kendaraan. Kelar urusan yang &#8220;genting dan penting&#8221; itu, aku sempatkan menelusuri sejenak lorong-lorong di sana, seraya membiarkan masa silam menggenangi kesadaran.
Ketika kanak-kanak, inilah pasar yang agak sering aku [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=blogyusariyanto.wordpress.com&blog=378454&post=375&subd=blogyusariyanto&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Havel dan Kafka,</p>
<p>/1./<br />
Matahari belum sepenuh hati memamerkan diri. Tapi, muncul hasrat mendesak-desak untuk segera dilunasi. Tiba-tiba, aku ingat Pasar Mayestik. Arloji menunjukkan pukul 08.10, saat aku memarkir kendaraan. Kelar urusan yang &#8220;genting dan penting&#8221; itu, aku sempatkan menelusuri sejenak lorong-lorong di sana, seraya membiarkan masa silam menggenangi kesadaran.</p>
<p>Ketika kanak-kanak, inilah pasar yang agak sering aku kunjungi. Keluarga kami tinggal di Rempoa. Tahu Bintaro? Rempoa sejatinya cuma terpisah sepelemparan batu dengan kawasan perumahan elit di selatan Jakarta itu. Rempoa-Mayestik berjarak sekitar 10 kilometer. Relatif dekat, apalagi tanpa kemacetan segila sekarang.<span id="more-375"></span></p>
<p>Pada awal 1980-an itu, bapak mengajak ke sana untuk sebuah keperluan. Lupa persisnya, tapi aku ingat bahwa kami ke lantai dua. Kemungkinannya: mencari seragam pramuka atau membuat piagam atau piala. Dulu, bapak adalah kepala sekolah dasar negeri. Itu sebabnya aku menunjuk dua kemungkinan tersebut. Aha, aku ingat, beliau acap pula menggandeng ke Toko Yusri, sebuah toko buku yang terletak di luar bangunan utama tapi masih satu lingkungan.</p>
<p>Jelang lebaran, kami juga kerap diboyong ke Pasar Mayestik. Memburu baju baru. Ada dua toko yang langganan disambangi: Esa Mokan dan Esa Genangku. Aku  tengok, Esa Genangku masih berlanjut meski tampak tertatih-tatih meladeni deru kompetisi. Akan halnya Esa Mokan justru sudah tutup, meski namanya masih terpampang. Aku amati toko itu. Di bawah plang nama, masih ada <em>banner</em> &#8220;Caterina,&#8221; merek tekstil ternama di era 1970-an sampai 1980-an. Saking terkenalnya, Warkop DKI pernah mencomot merek itu sebagai bahan guyonan.</p>
<p>Belakangan, aku tahu, Remy Sylado pernah membuat puisi berjudul “Caterina.” Mbeling, seperti biasa. Ini lengkapnya: <em>Caterina dari Alexandria/ pelindung Universitas Sorbonne/ dia santa/ Caterina dari Siena/ pelindung lembaga amal/ dia santa/ Caterina dari Indonesia/ pelindung aurat doang/ dia tekstil//</em></p>
<p>Di Pasar Mayestik, tekstil juga bisa diperoleh dengan mudah di sejumlah toko&#8211;sebagian besar pemiliknya warga keturunan India. Ya, inilah pasar: obat dan kosmetika, pakaian, alat olahraga, sayuran, buah-buahan, daging, ayam, ikan, bahan pembuat kue, kios penjahit. Lengkap dan padat. Bahkan, di anak-anak tangga, ada lapak yang digelar.</p>
<p>Terpisah dari bangunan utama, di bagian depan, dulu terdapat Radio Ong. Ini toko elektronik besar. Tak ingat lagi barang apa yang pernah kami boyong dari sana. Radio Ong berjaya jauh hari sebelum konsep pemasaran semacam Electronic City dan Agis merajalela dan mapan. Kini Radio Ong telah gugur, tak cukup kokoh menghadapi arus zaman.</p>
<p>Pada akhir 1980-an, selama tiga tahun, hampir tiap hari aku menjelajahi Mayestik. Lulus sekolah dasar, aku melanjutkan ke sekolah yang terletak di Jalan Bumi, yang cuma sekitar 500 meter dari Mayestik. Posisinya lebih dekat ke pintu belakang. Kami biasa masuk dari pintu itu dan melaju ke pintu depan, lalu menyeberang dan menyetop Metro Mini untuk pulang. &#8220;Mestik, mestik&#8230;&#8221; begitu teriak para kondektur.</p>
<p>/2./<br />
Hadir sejak 1950-an, namun Pasar Mayestik baru diresmikan pada 1981. Pada 1960-an, menurut sahibul hikayat, Nomo Koeswoyo (salah seorang anggota Koes Bersaudara dan ayah Chicha Koeswoyo) pernah menjadi “jagoan” di kawasan ini. Ketika Soekarno memenjarakan mereka di Glodok lantaran dianggap kontrarevolusioner, para tahanan lama mengincar. Beruntung, seorang jagoan Mayestik lain, yang lebih dulu masuk, menyelamatkan mereka dari “hukum rimba” penjara.</p>
<p>Pasar tersebut terletak di Jalan Kyai Maja, Kebayoran Baru. Di jalan itu juga terletak RS Pusat Pertamina dan sentra barang bekas bernama Taman Puring. Kebayoran Baru sendiri mulai dibangun pada akhir 1940-an sebagai satelit Jakarta. Sedari mula, kawasan ini merupakan lokasi hunian kaum berpunya&#8211;tentu ini generalisasi dan pasti ada anomali. Deretan rumah apik, pepohonan rindang, lingkungan elok tertata. Jika dulu terletak di tepi, kini Kebayoran Baru nyaris berada di jantung Ibu Kota. Dari Pasar Mayestik menuju Jalan Sudirman, jarak yang terbentang sekitar tiga kilometer saja.</p>
<p>Sejak 2007, beredar kabar bahwa Pasar Mayestik bakal direnovasi. Terkait hal itu, PD Pasar Jaya menyediakan lokasi penampungan sementara bagi pedagang Pasar Mayestik, yaitu di Taman Tebah&#8211;yang notabene bersisian dengan lokasi yang sekarang. Menurut Kompas, pasar ini memiliki 1.200 kios dan menjadi tempat menambatkan harapan dari sekitar 3.000 pedagang. Sampai pekan lalu, para pedagang masih bertahan di lokasi lama.</p>
<p>/3./<br />
Soal pasar, aku selalu terkenang deskripsi Arswendo Atmowiloto dalam <em>Canting</em>. Arswendo, dalam salah satu bagian novel itu, bercerita tentang Pasar Klewer, Solo. Kisah mengalir di era 1960-an, saat orang-orang belum bergosip soal Mulan Jameela atau Cinta Laura, melainkan tentang Rima Melati atau Rita Zahara.</p>
<p>Sang tokoh, Bu Bei, adalah seorang pedagang batik. Di pasar, Bu Bei mendapati dunia berbeda. Dia menjelma seorang manajer yang berkuasa. Kontras dengan kehidupan di rumah sebagai seorang istri priyayi yang sepanjang hayatnya didedikasikan untuk melayani suami.</p>
<p>Di pasar, Bu Bei dan perempuan-perempuan lain menemukan jeda dari kehidupan patriarkis yang menekan. Lebih jauh, membentuk kepribadian berbeda. “…peran yang disediakan Pasar Klewer sedemikian besar, sehingga Bu Bei yang memijati kaki suaminya dengan tabah, setia, bekti, penuh kasih sayang, dan juga ketakutan, adalah juga Bu Bei yang galak dan bisa memaki polisi, yang bisa bercanda, mencolek dan dicolek, dan dengan keberanian memutuskan masalah-masalah yang sulit. Mengambil keputusan sampai dengan ratusan ribu rupiah dalam satu tarikan napas,” tulis Arswendo.</p>
<p>Aku pun teringat Canting ketika para perempuan pedagang Mayestik menyapa: “Silakan, Mas…cari apa?” Tak berniat membeli apa-apa, sekadar memanjakan mata dan hati, aku hanya tersenyum sebagai reaksi. Aku teringat begitu saja kendati mafhum bahwa latar tempat dan waktu dari keduanya jauh berbeda.</p>
<p>/4./<br />
Mayestik akan berubah wajah. Sebentar lagi. Seperti juga Jakarta yang terus bersalin rupa. Pikiranku kemudian melompat ke Pasar Santa, juga di Kebayoran Baru, yang dua tahun silam selesai diremajakan.</p>
<p>Pada pekan-pekan pertama setelah peremajaan tuntas, saya sempat mengunjungi Pasar Santa. Ada yang berbeda, terutama di areal penjualan bahan pangan: daging, ikan, sayuran, dan lain-lain. Tanpa becek seperti kebanyakan pasar tradisional galibnya. Minus tumpukan sampah di sana-sini. Singkat kata, cukup nyaman.</p>
<p>Tak berlebihan agaknya jika menaruh harap bahwa itu juga yang terjadi dengan Mayestik. Menaruh harap bahwa tak ada &#8220;tikus-tikus&#8221; yang mengambil untung secara curang dari proyek ini. Dan, aku berhenti sejenak di areal parkir, sembari menengok ke bangunan pasar itu. Lagi. Aku mesti segera ke kantor.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/blogyusariyanto.wordpress.com/375/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/blogyusariyanto.wordpress.com/375/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/blogyusariyanto.wordpress.com/375/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/blogyusariyanto.wordpress.com/375/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/blogyusariyanto.wordpress.com/375/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/blogyusariyanto.wordpress.com/375/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/blogyusariyanto.wordpress.com/375/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/blogyusariyanto.wordpress.com/375/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/blogyusariyanto.wordpress.com/375/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/blogyusariyanto.wordpress.com/375/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=blogyusariyanto.wordpress.com&blog=378454&post=375&subd=blogyusariyanto&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogyusariyanto.wordpress.com/2009/05/11/mayestik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/289556a14fe9cc5ee0d87f32a2046b60?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yus ariyanto</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>istana</title>
		<link>http://blogyusariyanto.wordpress.com/2009/05/02/istana/</link>
		<comments>http://blogyusariyanto.wordpress.com/2009/05/02/istana/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 May 2009 15:29:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yus ariyanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogyusariyanto.wordpress.com/2009/05/07/istana/</guid>
		<description><![CDATA[Juni 2008. Pada suatu Ahad pagi yang cerah, puluhan bocah perumahan kami berwisata ke Istana Merdeka, Jakarta. Hitung-hitung sebagai variasi dari liburan akhir pekan. Saya ikut mendampingi mereka.
Selama sekitar 30 menit kami berkeliling. Di pengujung acara, pada anak tangga istana, para pengunjung dipersilakan foto bersama. Buat kenang-kenangan. Mata saya beredar sebentar. Ada enam pilar di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=blogyusariyanto.wordpress.com&blog=378454&post=370&subd=blogyusariyanto&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Juni 2008. Pada suatu Ahad pagi yang cerah, puluhan bocah perumahan kami berwisata ke Istana Merdeka, Jakarta. Hitung-hitung sebagai variasi dari liburan akhir pekan. Saya ikut mendampingi mereka.</p>
<p>Selama sekitar 30 menit kami berkeliling. Di pengujung acara, pada anak tangga istana, para pengunjung dipersilakan foto bersama. Buat kenang-kenangan. Mata saya beredar sebentar. Ada enam pilar di beranda. Besar dan putih. Lambang negara bertengger gagah di puncak. Lapangan Monas membentang luas di seberang. Saya tertegun.<span id="more-370"></span></p>
<p>Belakangan, saya tahu bangunan ini mulai dikerjakan pada 1873 pada masa kekuasaan Gubernur Jenderal Louden. Enam tahun kemudian pembangunan tuntas pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Johan Willem van Landsbarge.</p>
<p>Sejak Mei 2008, pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono mengizinkan rakyat untuk bertandang. Cuma, meski berstatus turis, para pengunjung dipagari sejumlah aturan terkait busana dan alas kaki: tak boleh mengenakan sandal, kaos oblong, dan celana pendek. Perihal jeans, juga mesti ditinggal di rumah. Pokoknya, formal.</p>
<p>Soal bersikap formal, Abdurrahman Wahid pernah coba membuyarkannya. Anda barangkali masih ingat, Abdurahman sempat muncul di beranda Istana Merdeka untuk memberikan salam kepada para pendukungnya yang berunjuk rasa. Ia masih presiden dan…ia mengenakan celana pendek. Kejadian itu berlangsung di sekitar detik-detik peluncuran dekrit yang menghebohkan tersebut.</p>
<p>Kini, saya tertegun lagi. Ada beberapa orang yang kini sangat ngebet untuk bisa “berumah” di istana. Pertemuan demi pertemuan digelar. Kesepakatan demi kesepakatan dilahirkan. Istana memang menyihir. Sejak dulu begitu. Demi menggapai istana Tumapel, Ken Arok membinasakan Tunggul Ametung. Inilah, konon, kudeta pertama di tanah yang kelak dikenal sebagai Indonesia.</p>
<p>Itu masa gelap, era ketika umat manusia belum mengenal prosedur suksesi kekuasaan secara reguler dan damai. Situasi telah jauh berubah. Namun, yakinkah kita bahwa pemenang kontes memang figur yang tepat? <em>Vox populi vox dei</em>. Namun, ikhtiar manusia niscaya masih amat diperlukan. Karena itu, misalnya, sejumlah orang berkampanye agar warga tak memilih Fulan. Mereka percaya istana tak layak didiami sosok seperti Fulan yang tangannya berlumuran darah di masa silam. Jika itu terjadi, betapa berbahaya kekuasaan.</p>
<p>Juli 2009. Rakyat akan kembali memilih penghuni istana. Saya teringat anekdot Nasrudin Hoja, seorang sufi jenaka yang hidup pada abad ke-13 di Turki. Alkisah, Nasrudin sedang menyambangi ibukota. Ia melihat kesibukan luar biasa di istana. Sebab ingin tahu, Nasrudin mendekati pintu gerbang.</p>
<p>Tapi pengawal bertingkah tidak ramah. “Menjauhlah engkau!” seru dia.</p>
<p>“Mengapa?” kata Nasrudin.</p>
<p>“Raja sedang menerima tamu-tamu agung dari seluruh negeri. Saat ini berlangsung pembicaraan penting. Pergilah!”</p>
<p>“Tapi mengapa aku harus menjauh?”</p>
<p>“Pembicaraan ini menyangkut nasib rakyat. Kami menjaga agar tidak ada perusuh yang masuk dan mengganggu. Pergilah!”</p>
<p>“Iya, aku akan pergi. Tapi pikirkan: bagaimana jika perusuhnya justru ada di dalam istana?” ujar Nasrudin seraya beranjak.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/blogyusariyanto.wordpress.com/370/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/blogyusariyanto.wordpress.com/370/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/blogyusariyanto.wordpress.com/370/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/blogyusariyanto.wordpress.com/370/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/blogyusariyanto.wordpress.com/370/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/blogyusariyanto.wordpress.com/370/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/blogyusariyanto.wordpress.com/370/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/blogyusariyanto.wordpress.com/370/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/blogyusariyanto.wordpress.com/370/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/blogyusariyanto.wordpress.com/370/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=blogyusariyanto.wordpress.com&blog=378454&post=370&subd=blogyusariyanto&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogyusariyanto.wordpress.com/2009/05/02/istana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/289556a14fe9cc5ee0d87f32a2046b60?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yus ariyanto</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>oh, crocs&#8230;</title>
		<link>http://blogyusariyanto.wordpress.com/2009/04/23/oh-crocs/</link>
		<comments>http://blogyusariyanto.wordpress.com/2009/04/23/oh-crocs/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 Apr 2009 15:33:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yus ariyanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogyusariyanto.wordpress.com/?p=373</guid>
		<description><![CDATA[Dua hari tak menjelajahi Senayan City, hati saya ciut siang tadi. Di lantai delapan mal mewah itu ratusan orang antre. Bukan, mereka bukan menanti bantuan langsung tunai (BLT). Sebagaimana kebanyakan pengunjung, mereka terlihat jelas berasal dari kalangan menengah atas. Orang-orang yang, kayaknya, kedap dari terjangan krisis. Trendi dan wangi. Tua dan muda.
Tuan dan Puan, di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=blogyusariyanto.wordpress.com&blog=378454&post=373&subd=blogyusariyanto&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Dua hari tak menjelajahi Senayan City, hati saya ciut siang tadi. Di lantai delapan mal mewah itu ratusan orang antre. Bukan, mereka bukan menanti bantuan langsung tunai (BLT). Sebagaimana kebanyakan pengunjung, mereka terlihat jelas berasal dari kalangan menengah atas. Orang-orang yang, kayaknya, kedap dari terjangan krisis. Trendi dan wangi. Tua dan muda.</p>
<p>Tuan dan Puan, di sana sedang berlangsung program diskon gede-gedean dari Crocs, produk sandal dan sepatu asal Colorado, Amerika Serikat. Memang menggiurkan. Dari harga Rp 400 ribuan, kini Anda bisa menentengnya pulang dengan hanya merogoh kocek Rp 100 ribuan. Dan, berbeda dengan antrean BLT, mereka berbaris dalam kepungan udara sejuk, bukan dengan kepala terbakar matahari. Mereka diminta antre lantaran jika semua masuk sekaligus hanya kekacauan yang dipetik. Luas ruang tak sebanding dengan jumlah yang datang.<span id="more-373"></span></p>
<p>Crocs sendiri merupakan merek yang baru tenar sejak sekitar setahunan lalu di Tanah Air. Tujuh tahun silam, George Boedecker, Scott Seamans, dan Duke Hanson berkongsi memasarkan sepatu untuk aktivitas luar ruang. Cirinya, anti-slip dan punya warna-warna yang cerah. Belakangan, Crocs memantik pula kontroversi: sandalnya konon gampang nyangkut di tangga berjalan.</p>
<p>Havel dan Kafka, anak-anak kami, punya pula sandal Crocs. Abal-abal. Kami mendapatkan sandal Havel hanya dengan Rp 20 ribu. Ada harga, ada rupa. Jahitannya tak rapi, bahannya kasar. Juga tak awet. Kurang dari seminggu dipakai, tali belakangnya putus. Toh, mereka tampak menyukai benda yang hanya seharga dua bungkus Marlboro Merah itu.</p>
<p>Dari lantai sembilan ini, ketika gelap kian sempurna, saya masih menyaksikan mobil-mobil merayap lambat guna mencapai lobi Senayan City. Saya berani memastikan, sebagian besar mereka hendak menjemput sang majikan yang kelar menghadiri perhelatan di lantai delapan. Tentu, bukan pemandangan galib. Sejauh ini, hanya Crocs yang sanggup memunculkan situasi ini. Di Jalan Asia-Afrika, tumben benar lalu-lintas demikian padat dari arah selatan&#8211;padahal ini bukan Jumat malam. Seorang teman yang datang siang mengeluh, &#8220;Duh, susahnya cari parkir.&#8221; Jika akhir pekan, ia maklum. Senayan City gitu loooh&#8230;</p>
<p>Ya, banyak orang mencibir: huh, kaum konsumtif. Saya mencoba berjarak. Sependek ingatan saya, perekonomian kita banyak ditopang sisi konsumsi. Bukan produksi dan investasi. Saya riset sejenak, sektor konsumsi, baik di lini swasta maupun pemerintah, tetap menyetor kontribusi terbesar terhadap pendapatan kotor nasional: lebih dari 60 persen.</p>
<p>Tapi, bagaimana dengan snobisme? Apakah ini bukti ketidakberdayaan massa menghadapi rayuan iklan? Inikah sikap tak nasionalis di tengah kebijakan proteksionistis sejumlah negara? Atau, ini justru bentuk &#8220;kecerdasan&#8221; ekonomis?</p>
<p>Saya belum sempat memikirkan semua itu, seperti juga saya belum sempat makan malam saat menyusun catatan ini. Saya hanya ingat pernah ingin juga memiliki Crocs, tak perlu yang asli, supaya bisa tampil kompak bersama Havel dan Kafka. Snob kecil-kecilan&#8230;</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/blogyusariyanto.wordpress.com/373/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/blogyusariyanto.wordpress.com/373/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/blogyusariyanto.wordpress.com/373/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/blogyusariyanto.wordpress.com/373/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/blogyusariyanto.wordpress.com/373/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/blogyusariyanto.wordpress.com/373/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/blogyusariyanto.wordpress.com/373/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/blogyusariyanto.wordpress.com/373/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/blogyusariyanto.wordpress.com/373/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/blogyusariyanto.wordpress.com/373/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=blogyusariyanto.wordpress.com&blog=378454&post=373&subd=blogyusariyanto&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogyusariyanto.wordpress.com/2009/04/23/oh-crocs/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/289556a14fe9cc5ee0d87f32a2046b60?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yus ariyanto</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ajakan dari mimbar atau surat untuk nurcholish madjid</title>
		<link>http://blogyusariyanto.wordpress.com/2009/03/17/ajakan-dari-mimbar-atau-surat-untuk-nurcholish-madjid/</link>
		<comments>http://blogyusariyanto.wordpress.com/2009/03/17/ajakan-dari-mimbar-atau-surat-untuk-nurcholish-madjid/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Mar 2009 00:02:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yus ariyanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogyusariyanto.wordpress.com/?p=363</guid>
		<description><![CDATA[cak nur,
saya buka lagi buku yang sampulnya telah koyak oleh kafka, anak saya. terbit tahun lalu dengan judul all you need is love: cak nur di mata anak-anak muda, kitab ini memuat 30 esai. salah satu yang paling menarik perhatian adalah tuturan hikmat darmawan.
ia berkisah, di pertengahan 1990-an, di mimbar jumat itu anda menyarankan para [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=blogyusariyanto.wordpress.com&blog=378454&post=363&subd=blogyusariyanto&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>cak nur,</p>
<p>saya buka lagi buku yang sampulnya telah koyak oleh kafka, anak saya. terbit tahun lalu dengan judul <em>all you need is love: cak nur di mata anak-anak muda</em>, kitab ini memuat 30 esai. salah satu yang paling menarik perhatian adalah tuturan hikmat darmawan.</p>
<p>ia berkisah, di pertengahan 1990-an, di mimbar jumat itu anda menyarankan para jamaah untuk menonton <em>the name of the rose</em>. kok bisa-bisanya, cak? film tersebut dibikin berdasarkan novel dengan judul serupa karya ahli semiotika umberto eco. pokok kisahnya adalah misteri serangkaian pembunuhan di sebuah biara katolik di abad pertengahan.<span id="more-363"></span></p>
<p>hikmat mengaku tak terlalu kaget oleh anjuran itu. <em>the name of the rose</em>, tulisnya, adalah juga, “sebuah simulasi pluralisme dan kebebasan berpikir.” rasionalitas ditubuhkan dalam sosok william baskerville, sang penyelidik. ia terutama kaget karena faktor mimbarnya.</p>
<p>pasti, hikmat tak kaget sendiri. mimbar-mimbar seperti itu lazimnya dimanfaatkan untuk meninju barat dan antek-anteknya. akhir pekan lalu, di masjid perumahan kami, tonjokan itu dilancarkan hari moekti, <em>rocker </em>yang banting stir jadi dai. hari bilang, “artis-artis sudah disiapkan yahudi untuk merusak aqidah.”</p>
<p>tak terbayangkan bahwa ajakan menonton sebuah film, bahkan yang semacam <em>the name of the rose</em>, bisa meluncur dari mulut hari dan banyak ustadz lain. anda minoritas, cak nur. pun sampai hari ini, 17 maret 2009, saat anda berulang tahun ke 70…</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/blogyusariyanto.wordpress.com/363/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/blogyusariyanto.wordpress.com/363/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/blogyusariyanto.wordpress.com/363/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/blogyusariyanto.wordpress.com/363/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/blogyusariyanto.wordpress.com/363/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/blogyusariyanto.wordpress.com/363/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/blogyusariyanto.wordpress.com/363/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/blogyusariyanto.wordpress.com/363/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/blogyusariyanto.wordpress.com/363/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/blogyusariyanto.wordpress.com/363/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=blogyusariyanto.wordpress.com&blog=378454&post=363&subd=blogyusariyanto&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogyusariyanto.wordpress.com/2009/03/17/ajakan-dari-mimbar-atau-surat-untuk-nurcholish-madjid/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/289556a14fe9cc5ee0d87f32a2046b60?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yus ariyanto</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>sjahrir, seabad</title>
		<link>http://blogyusariyanto.wordpress.com/2009/03/05/sjahrir-seabad/</link>
		<comments>http://blogyusariyanto.wordpress.com/2009/03/05/sjahrir-seabad/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Mar 2009 12:08:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yus ariyanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogyusariyanto.wordpress.com/?p=358</guid>
		<description><![CDATA[Havel dan Kafka,
7 MARET 1935. BARU BEBERAPA HARI Sutan Sjahrir menjalani pengasingan di Boven Digul.  Di Renungan Indonesia, ia melukiskan pembagian kategori orang-orang buangan: “orang jang suka bekerdja” dan “orang jang disebut naturalis.” Golongan pertama adalah mereka yang bersedia melakukan pekerjaan untuk rezim kolonial Belanda: menjadi pegawai polisi, guru, atau juru rawat. Dengan memilih [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=blogyusariyanto.wordpress.com&blog=378454&post=358&subd=blogyusariyanto&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Havel dan Kafka,</p>
<p>7 MARET 1935. BARU BEBERAPA HARI Sutan Sjahrir menjalani pengasingan di Boven Digul.  Di <em>Renungan Indonesia</em>, ia melukiskan pembagian kategori orang-orang buangan: “orang jang suka bekerdja” dan “orang jang disebut naturalis.” Golongan pertama adalah mereka yang bersedia melakukan pekerjaan untuk rezim kolonial Belanda: menjadi pegawai polisi, guru, atau juru rawat. Dengan memilih ini, yang bersangkutan memperoleh upah 40 sen sehari plus tunjangan beras 18 kilogram saban bulan.</p>
<p>(<em>Renungan Indonesia</em> merupakan terjemahan dari <em>Indonesische Overpeinzingen</em> yang dilakukan HB Jassin dan terbit pertama kali pada 1947. Buku itu adalah antologi catatan harian Sjahrir selama melakoni pengasingan di Digul dan Banda Neira.)<span id="more-358"></span></p>
<p>Kaum naturalis adalah mereka yang menolak bekerja untuk Belanda. Mereka hanya memperoleh makanan dengan natura—itu sebabnya mereka disebut naturalis. Yang disediakan: 18 kilogram beras, 2,2 kilogram ikan asin dan ikan kering, o,6 kilogram kacang hijau, 0,48 kilogram garam, 0,18 kilogram teh, 0,36 liter minyak kelapa, 0,6 kilogram gula merah. Tak dipasok daging, sayuran, atau pakaian.</p>
<p>Dari tujuh teman separtai Sjahrir, hanya seorang yang mau bekerja untuk pemerintah. Buat Sjahrir, ini bukan sesuatu yang dilematis, pilihan mudah belaka. Upah 40 sen itu terlampau kecil. Padahal, pada jurnal bertanggal 7 Maret 1935, “Semua orang pekerdja harian itu—sesudah bekerja dari pagi djam tujuh sampai siang djam duabelas—ja’ni bagian hari yang paling sejuk—tidak berdaja lagi buat pekerdjaan pikiran yang lain,” tulisnya.</p>
<p>Bayangkan, ketika siang datang, temperatur rata-rata mencapai 38 derajat celcius. Berdiam di pondok juga tak menolong, karena bak berada di dalam kotak besi. Akan halnya malam hari, mereka harus cepat-cepat masuk kelambu agar tak menjadi mangsa empuk gerombolan nyamuk malaria. Sebagai intelektual, apa yang lebih menyiksa Sjahrir ketimbang tak kuasa melakukan “pekerdjaan pikiran” seperti membaca atau menulis?!</p>
<p>Sjahrir membandingkan kehidupan penjara di Cipinang dan Digul. Di Cipinang, ia tak harus memikirkan listrik untuk penerangan. Soal makanan, meski tak terlampau enak, tapi lumayan bergizi dan membuat badannya jadi berisi.</p>
<p>Di Digul, Sjahrir mesti membangun pondok sendiri. Pasti, sebelumnya ia harus menebang kayu sendiri. Untuk itu, ia harus berjalan jauh, menembus hutan. Untungnya, atap dan besi disediakan. Tapi, tak ada listrik untuk penerangan. Lalu, lantaran tak memperoleh ransum, ia mesti menanam sayuran dan mencari ikan di sungai.</p>
<p>Toh, sebagai orang yang diasingkan, Sjahrir memilih untuk tak terperosok pada fatalisme. Ia menulis, pada 27 Maret 1935, “Kita boleh, malahan kita harus realistis dan kritis, tapi mengapa kita akan memahitkan kehidupan kita dengan skeptisisme dan cynisme? Mengapa dan buat apa tidak pertjaja kepada dunia dan kepada diri sendiri?”</p>
<p>SJAHRIR MUNCUL DI <em>BURUNG-BURUNG Manyar</em> karya YB Mangunwijaya. Alkisah, sejumlah serdadu NICA menembaki mobilnya sehingga mesti stop dengan terpaksa.</p>
<p>Ia diinterogasi dengan kasar tapi menanggapi dengan sabar. Sjahrir berujar, “Jenderal Christison menunggu saya. Harap jangan mengecewakan beliau.” Para kroco bule itu meradang. Salah seorang di antaranya mendaratkan gagang pistol di wajah perdana menteri pertama RI itu.</p>
<p>Adegan tersebut menjadi jembatan menuju penonjolan karakter Sjahrir yang meluncur dari mulut Mayor Verbruggen, perwira NICA.</p>
<p>Ini kutipan dari Verbruggen, “Orang ini (Sjahrir, YA) musuh paling berbahaya bagi hidup-mati Hindia Belanda. Sebab dengan senyumnya, dengan kehalusan budinya, ia memikat. Seorang Soekarno, ia boleh-boleh saja didewa-dewakan oleh massa bangsa kuli tolol itu, tetapi ia tidak berbicara apa-apa untuk orang-orang gede dalam meja penguasaan dunia yang sekarang sedang menata dunia…Semakin banyak Soekarno, semakin lekas Republik ini hancur.”</p>
<p>Dengan sedikit lebih “dingin,” semangat kutipan itu telah hadir pada karya Romo Mangun sebelumnya, pada esai berjudul <em>Dilema Sutan Sjahrir: Antara Pemikir dan Politikus.</em> Sila simak, “Bahaya yang terbesar sebenarnya sudah bersarang di dalam bangsa Indonesia sendiri…sementara Sukarno memobilisasi gelora semangat massa agar berapi-api merupakan himpunan dan pemusatan tenaga rakyat melawan Belanda, Sjahrir dan kabinetnya merasa wajib mengatur tenaga raksasa itu ke dalam pengerahan yang benar. Agar jangan sampai energi-energi yang membubung itu berubah menjadi demon-demon yang akhirnya hanya menelan anak-anaknya sendiri…”</p>
<p>5 MARET 2009. JIKA MASIH HIDUP, Sjahrir genap 100 tahun. Seabad. Beragam tafsir atas perannya sepanjang hayat. Bila menilik catatan bertanggal 16 Desember 1934, mungkin ia tak peduli. Baca, “…tapi betapa banjak tenaga jang kita pakai untuk membikin supaja diri kita jang ketjil ini di dalam mata orang lain dan di dalam mata kita sendiri seolah-olah sangat penting dan indah…Mengapa kita tak tahan kalau orang lain mempunjai pikiran yang kurang baik terhadap kita?”</p>
<p><em><span>Catatan: beberapa paragraf di atas pernah muncul di blogyusariyanto.wordpress.</span>com, hampir setahun silam.</em></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/blogyusariyanto.wordpress.com/358/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/blogyusariyanto.wordpress.com/358/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/blogyusariyanto.wordpress.com/358/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/blogyusariyanto.wordpress.com/358/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/blogyusariyanto.wordpress.com/358/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/blogyusariyanto.wordpress.com/358/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/blogyusariyanto.wordpress.com/358/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/blogyusariyanto.wordpress.com/358/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/blogyusariyanto.wordpress.com/358/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/blogyusariyanto.wordpress.com/358/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=blogyusariyanto.wordpress.com&blog=378454&post=358&subd=blogyusariyanto&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogyusariyanto.wordpress.com/2009/03/05/sjahrir-seabad/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/289556a14fe9cc5ee0d87f32a2046b60?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yus ariyanto</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>jangan mengeluh, tulis saja versimu!</title>
		<link>http://blogyusariyanto.wordpress.com/2009/02/21/jangan-mengeluh-tulis-saja-versimu/</link>
		<comments>http://blogyusariyanto.wordpress.com/2009/02/21/jangan-mengeluh-tulis-saja-versimu/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Feb 2009 15:08:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yus ariyanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogyusariyanto.wordpress.com/?p=344</guid>
		<description><![CDATA[Havel dan Kafka,
/1./
Lantaran pekerjaan, saban pekan aku mesti mengetuk pintu Wikipedia. Lalu, bercengkerama dengannya. Aku membayangkan, jika pekerjaan ini dilakoni sebelum 2001, betapa menyita energi dan waktu. Hanya dengan membuka Wikipedia, sim sala bim, informasi yang aku incar melesat ke permukaan. Dalam hitungan beberapa detik.
Wikipedia? Ah, pasti cukup banyak di antara orang-orang yang mencibir: “Masak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=blogyusariyanto.wordpress.com&blog=378454&post=344&subd=blogyusariyanto&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Havel dan Kafka,</p>
<p>/1./<br />
Lantaran pekerjaan, saban pekan aku mesti mengetuk pintu Wikipedia. Lalu, bercengkerama dengannya. Aku membayangkan, jika pekerjaan ini dilakoni sebelum 2001, betapa menyita energi dan waktu. Hanya dengan membuka Wikipedia, <em>sim sala bim</em>, informasi yang aku incar melesat ke permukaan. Dalam hitungan beberapa detik.</p>
<p>Wikipedia? Ah, pasti cukup banyak di antara orang-orang yang mencibir: “Masak pseudo-ensiklopedia kayak gitu dipercaya…” Mari kita mudik sejenak ke 2001. Jimmy Wales, seorang pengusaha tajir, mulai membangun sebuah ensiklopedia online dengan cara yang benar-benar baru. Revolusioner. Dia menamainya “Wikipedia.” Dalam bahasa Hawaii, Wiki bermakna “cepat.”<span id="more-344"></span></p>
<p>Ya, metode pembuatannya sangat berbeda dengan <em>Encyclopedia Britannica</em>, untuk menyebut yang paling tersohor, yang dikerjakan para pakar selaku kontributor. Lalu sekelompok editor bekerja untuk coba memastikan bahwa kekeliruan telah pergi menjauh. Cara ini juga lazim ditempuh dalam penyusunan ensiklopedia-ensiklopedia lain.</p>
<p>Wikipedia justru “ultra-demokratis”: siapa saja bisa menyumbang bahan alias menjadi kontributor. Syaratnya cuma satu, yaitu punya akses Internet. Tak mengherankan jika jumlah entri-nya hampir mencapai 12 juta, dalam aneka bahasa. Terbanyak adalah edisi Bahasa Inggris yang lebih dari 2,6 juta entri.</p>
<p>Nah, justru karena siapa saja bisa menjadi kontributor maka cibiran semacam di atas meluncur deras. Jadi, sampahkah Wikipedia? Aku ingin mengajak kalian untuk menengok lagi buku yang beberapa waktu lalu sempat menjadi buah bibir: <em>The Long Tail</em> karya Chris Anderson. Dalam salah satu bagian, Anderson menyampaikan “pledoi” buat Wikipedia.</p>
<p>Anderson mengakui, Wikipedia memang tak otoritatif. Tapi, perhatikan fakta-fakta berikut. Pada sebuah riset jurnal ilmiah Nature di 2005, ditemukan bahwa dalam 42 entri untuk bidang sains rata-rata ada empat kesalahan per entri di Wikipedia dan tiga kesalahan per entri di Britannica. Dan, segera setelah laporan itu terbit, kesalahan-kesalahan di Wikipedia dikoreksi. Britannica? Tunggu cetak ulang berikutnya (Kita tentu saja tak membicarakan versi <em>online </em>dari Britannica).</p>
<p>Persis di sana terletak senjata Wikipedia untuk mengempang kesalahan akibat tiadanya seleksi kontributor: koreksi bisa dilakukan siapa saja, kapan saja. Bagaimana jika dalam “koreksi” itu mengandung kesalahan lain? Para penggemarnya yang kian banyak bertindak sebagai anggota sebuah sistem kekebalan, yang dengan sigap dan tanggap bereaksi terhadap ancaman apapun.</p>
<p>Dua kalimat terpokok dari Anderson adalah, ”Wikipedia sebaiknya menjadi sumber informasi pertama, bukan terakhir. Ia menjadi situs menggali informasi, bukan sumber fakta yang definitif.” Inilah yang mesti senantiasa diingat.</p>
<p>Faktanya, banyak orang kini lebih jatuh cinta pada Wikipedia ketimbang Britannica. Lebih lengkap, kerap lebih mendalam&#8211;meski harus hati-hati agar tak terjerembab. Aku sendiri tak punya pilihan: memilih Wikipedia atau pekerjaan harus diselesaikan dengan tenaga ekstra dan durasi jauh lebih panjang.</p>
<p>Secara umum, jika dulu para pengguna ensiklopedia hanya bisa mengeluh saat memergoki kekurangan atau kekeliruan, kini mereka bisa ikut berpartisipasi menyempurnakan. <em>Don’t curse the dark, better to light a candle</em>, kata pepatah uzur.</p>
<p>/2./<br />
Pada Desember 2007, Google merilis Knol (knol.google.com). Semula cuma boleh diisi para undangan, mulai Juli 2008 berubah: semua orang bisa ikut berkontribusi. Orang mulai membandingkannya dengan Wiipedia. Kendati pendekatan kontennya mirip ensiklopedia, Knol memiliki sejumlah perbedaan dengan Wikipedia. Knol mendorong pengguna untuk menampilkan identitas asli, berbeda dengan Wikipedia yang anonim. Dengan aturan ini, problem akurasi coba diminimalkan.</p>
<p>Ada perbedaan lain. Pada Wikipedia, setiap pengunjung bisa dengan bebas menyunting sebuah entri meski ditulis orang lain. Pada Knol, setiap orang juga bebas memberikan saran atau koreksi, tapi keputusan untuk mengubah tetap berada pada penulis asli. Satu hal, pembaca dapat memberi rating atau komentar atas setiap artikel. Sangat mungkin penyempurnaan dipicu sebuah pertanyaan atau skeptisisme. Definisi kontribusi lantas meluas: bukan melulu menulis dan menyunting, tapi bisa jadi sekadar mengajukan pertanyaan/komentar. Namun, jika ingin semua aspirasi tertampung, sila bikin tulisan dengan subyek serupa.</p>
<p>Perbedaan terakhir, Knol mengizinkan penulis artikel mendulang <em>fulus </em>dari Google AdSense. Kita mafhum, skema ini mustahil berjalan di Wikipedia selama mereka masih menerapkan konsep anonimitas.</p>
<p>Hal yang mengganggu, menurut saya, ditoleransinya tulisan-tulisan berkarakter opini, bukan sebagaimana lazimnya muatan entri di sebuah ensiklopedia yang melulu deskriptif-informatif. Ini membuat Knol seperti mengalami <em>split personality</em>.</p>
<p>/3./<br />
Era Pencerahan di Eropa, konon, dipercepat penemuan tiga benda: mesiu, kompas, dan mesin cetak. Mesiu membuat manusia bisa mengakhiri feodalisme, yang bermukim di balik dinding-dinding tebal kastil para ningrat. Mesin cetak menjadikan ilmu pengetahuan bukan lagi milik eksklusif sekelompok elit. Kompas membikin perjalanan jauh lebih aman, dunia baru bisa dirambah.</p>
<p>Bagaimana dengan Internet? Inilah suvenir terbaik dari abad ke-20: menyempurnakan proses demokratisasi informasi sehingga bukan lagi milik eksklusif sekelompok elit. Sejurus setelah itu, membikin orang terlecut untuk menempuh “perjalanan jauh, merambah dunia baru.” Wikipedia dan Knol adalah salah dua penghuninya yang paling berkilau.</p>
<p>Dalam konteks mutakhir, kata orang-orang pintar di bidang multimedia, situs semacam Wikipedia dan Knol merupakan representasi paripurna dari era Web 2.0: ketika partisipasi pengguna dan sifat interaktif menjadi sangat menonjol. Informasi tak hanya mengalir dari satu arah, melainkan timbal balik antara pemilik situs dan pengguna—pada akhirnya, pemilik bahkan sekadar menyediakan tempat. Semua ini masih belum revolusioner?</p>
<p><em>Catatan: versi lain esai ini (yang lebih ringkas) pernah tampil di blog.liputan6.com. Sejumlah komentar berharga, terutama dari Rio Pangkerego, membuat saya tergerak untuk memodifikasinya.</em></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/blogyusariyanto.wordpress.com/344/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/blogyusariyanto.wordpress.com/344/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/blogyusariyanto.wordpress.com/344/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/blogyusariyanto.wordpress.com/344/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/blogyusariyanto.wordpress.com/344/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/blogyusariyanto.wordpress.com/344/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/blogyusariyanto.wordpress.com/344/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/blogyusariyanto.wordpress.com/344/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/blogyusariyanto.wordpress.com/344/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/blogyusariyanto.wordpress.com/344/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=blogyusariyanto.wordpress.com&blog=378454&post=344&subd=blogyusariyanto&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogyusariyanto.wordpress.com/2009/02/21/jangan-mengeluh-tulis-saja-versimu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/289556a14fe9cc5ee0d87f32a2046b60?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yus ariyanto</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>