You are currently browsing the category archive for the 'Uncategorized' category.
Kemenangan yang digenggam cuma sejenak membuat Jayakatwang girang. Selebihnya, gundah berkepanjangan. Demikian Arswendo Atmowiloto mengisahkan dalam Senopati Pamungkas yang pertama kali muncul pada 1984.
Jayakatwang pun memanggil Ugrawe, sang patih-cum-jago silat nomor wahid, dan Rawikara, putra mahkotanya. “…sebentar lagi aku berada di singgasana ini selama seratus hari. Masih saja belum hilang bayangan yang mengerikan. Mayat-mayat berjatuhan, banjir darah, erangan orang-orang yang kuhormati lahir-batin…Kadang aku berpikir sendiri, apakah tindakan yang kulakukan bukan suatu kekeliruan yang bakal dikutuk anak cucuku besok,” ujar raja itu. Read the rest of this entry »
Setiyadi tergolong penggemar berat Leo Kristi. Manajer di perusahaan multinasional di Jakarta ini mulai mengenal Leo pada 1978, saat duduk di bangku SMP. Anak sulungnya diberi nama Amanda Katia Khairunnisa. Jika ingat lagu Katia, Amanda, dan Aku di album Nyanyian Fajar, niscaya kita mafhum sumber inspirasi Adi, panggilan akrab Setiyadi.
Lihat menara mercu
Tinggal siluet
Tepat di balik kubah, matahari jatuh
Seratus burung melayang
Katia, Amanda, dan aku…
Leo juga sempat tinggal beberapa pekan di rumah Adi di Jatiasih, Bekasi, Jawa Barat. “Kawasan rumah saya yang mungkin tak banyak orang tahu itu ternyata membuat Leo betah. Komentarnya sepele: rimbun ya, hijau…daerah sini,” tulisnya di mailing list para penggemar Leo Kristi itu. Para fans tersebut menyebut diri “LKers.” Di sana, secara berseloroh, sejumlah anggota menabalkan Adi sebagai “Ketua Dewan Syuro” LKers. Read the rest of this entry »
Punya tokoh fiksi “berpengaruh” dari masa bocah? Saya punya. Bukan, bukan para anggota Trio Detektif atau Lima Sekawan karya Enid Blyton. Tokoh saya adalah Pulung. Ini karakter rekaan Bung Smas, yang sempat tampil dalam tujuh buku di serial Pulung.
Saya lupa kapan dan bagaimana persisnya mengetahui keberadaan tokoh ini. Tapi, masih tertancap di ingatan soal kapan dan bagaimana memperolehnya pertama kali. Itu terjadi seusai saya dikhitan. Bapak memberikan sejumlah uang sebagai hadiah. Saya langsung ngacir ke Gramedia Blok M. Naik Metro Mini. Itu di pertengahan 80-an dan saya masih bercelana pendek merah saat pergi ke sekolah.
Pulung adalah seorang anak desa. Ketika buku pertama terbit, Pulung duduk di kelas VI. Dalam buku-buku berikutnya, ia sudah di bangku SMP. Dia diceritakan terbilang kuntet, dengan rambut kaku bak ijuk. Tampaknya ia tinggal di pinggiran Pekalongan atau Pemalang, Jawa Tengah. Bung Smas kerap menyebut PK dan PM untuk menunjuk nama kota. Keduanya dikesankan berdekatan. Read the rest of this entry »
/1./
Ingatannya menjulur ke masa remaja. Sejumlah teman menyajikan Blues untuk Bonnie buat pementasan di sekolah. Tentu, itu karya Rendra. Seorang teman bergitar dan mengalunkan irama blues. Jreng…
“Kota Boston lusuh dan layu
kerna angin santer, udara jelek,
dan malam larut yang celaka.
Di dalam cafe tua itu
seorang penyanyi negro tua
bergitar dan bernyanyi.” Read the rest of this entry »
Havel dan Kafka,
/1./
Matahari belum sepenuh hati memamerkan diri. Tapi, muncul hasrat mendesak-desak untuk segera dilunasi. Tiba-tiba, aku ingat Pasar Mayestik. Arloji menunjukkan pukul 08.10, saat aku memarkir kendaraan. Kelar urusan yang “genting dan penting” itu, aku sempatkan menelusuri sejenak lorong-lorong di sana, seraya membiarkan masa silam menggenangi kesadaran.
Ketika kanak-kanak, inilah pasar yang agak sering aku kunjungi. Keluarga kami tinggal di Rempoa. Tahu Bintaro? Rempoa sejatinya cuma terpisah sepelemparan batu dengan kawasan perumahan elit di selatan Jakarta itu. Rempoa-Mayestik berjarak sekitar 10 kilometer. Relatif dekat, apalagi tanpa kemacetan segila sekarang. Read the rest of this entry »
Juni 2008. Pada suatu Ahad pagi yang cerah, puluhan bocah perumahan kami berwisata ke Istana Merdeka, Jakarta. Hitung-hitung sebagai variasi dari liburan akhir pekan. Saya ikut mendampingi mereka.
Selama sekitar 30 menit kami berkeliling. Di pengujung acara, pada anak tangga istana, para pengunjung dipersilakan foto bersama. Buat kenang-kenangan. Mata saya beredar sebentar. Ada enam pilar di beranda. Besar dan putih. Lambang negara bertengger gagah di puncak. Lapangan Monas membentang luas di seberang. Saya tertegun. Read the rest of this entry »
Dua hari tak menjelajahi Senayan City, hati saya ciut siang tadi. Di lantai delapan mal mewah itu ratusan orang antre. Bukan, mereka bukan menanti bantuan langsung tunai (BLT). Sebagaimana kebanyakan pengunjung, mereka terlihat jelas berasal dari kalangan menengah atas. Orang-orang yang, kayaknya, kedap dari terjangan krisis. Trendi dan wangi. Tua dan muda.
Tuan dan Puan, di sana sedang berlangsung program diskon gede-gedean dari Crocs, produk sandal dan sepatu asal Colorado, Amerika Serikat. Memang menggiurkan. Dari harga Rp 400 ribuan, kini Anda bisa menentengnya pulang dengan hanya merogoh kocek Rp 100 ribuan. Dan, berbeda dengan antrean BLT, mereka berbaris dalam kepungan udara sejuk, bukan dengan kepala terbakar matahari. Mereka diminta antre lantaran jika semua masuk sekaligus hanya kekacauan yang dipetik. Luas ruang tak sebanding dengan jumlah yang datang. Read the rest of this entry »
cak nur,
saya buka lagi buku yang sampulnya telah koyak oleh kafka, anak saya. terbit tahun lalu dengan judul all you need is love: cak nur di mata anak-anak muda, kitab ini memuat 30 esai. salah satu yang paling menarik perhatian adalah tuturan hikmat darmawan.
ia berkisah, di pertengahan 1990-an, di mimbar jumat itu anda menyarankan para jamaah untuk menonton the name of the rose. kok bisa-bisanya, cak? film tersebut dibikin berdasarkan novel dengan judul serupa karya ahli semiotika umberto eco. pokok kisahnya adalah misteri serangkaian pembunuhan di sebuah biara katolik di abad pertengahan. Read the rest of this entry »
Havel dan Kafka,
7 MARET 1935. BARU BEBERAPA HARI Sutan Sjahrir menjalani pengasingan di Boven Digul. Di Renungan Indonesia, ia melukiskan pembagian kategori orang-orang buangan: “orang jang suka bekerdja” dan “orang jang disebut naturalis.” Golongan pertama adalah mereka yang bersedia melakukan pekerjaan untuk rezim kolonial Belanda: menjadi pegawai polisi, guru, atau juru rawat. Dengan memilih ini, yang bersangkutan memperoleh upah 40 sen sehari plus tunjangan beras 18 kilogram saban bulan.
(Renungan Indonesia merupakan terjemahan dari Indonesische Overpeinzingen yang dilakukan HB Jassin dan terbit pertama kali pada 1947. Buku itu adalah antologi catatan harian Sjahrir selama melakoni pengasingan di Digul dan Banda Neira.) Read the rest of this entry »
Havel dan Kafka,
/1./
Lantaran pekerjaan, saban pekan aku mesti mengetuk pintu Wikipedia. Lalu, bercengkerama dengannya. Aku membayangkan, jika pekerjaan ini dilakoni sebelum 2001, betapa menyita energi dan waktu. Hanya dengan membuka Wikipedia, sim sala bim, informasi yang aku incar melesat ke permukaan. Dalam hitungan beberapa detik.
Wikipedia? Ah, pasti cukup banyak di antara orang-orang yang mencibir: “Masak pseudo-ensiklopedia kayak gitu dipercaya…” Mari kita mudik sejenak ke 2001. Jimmy Wales, seorang pengusaha tajir, mulai membangun sebuah ensiklopedia online dengan cara yang benar-benar baru. Revolusioner. Dia menamainya “Wikipedia.” Dalam bahasa Hawaii, Wiki bermakna “cepat.” Read the rest of this entry »
