Seno Gumira Ajidarma bilang, andai hanya satu yang mesti dipilih dari 300 cerpen, ia akan  menunjuk “There Goes Tatum” karya almarhum Umar Kayam. Itu dikemukakannya ketika menjadi editor antologi cerpen terbaik Kompas periode 1970-1980. “…dari sudut kematangan teknik bercerita, cerpen yang ditulis di New York pada musim panas tahun 1961 ini lebih dari unggul. Tidak sebaris pun kalimat dalam cerpen ini diturunkan dengan untung-untungan (“siapa tahu dianggap bagus”)…” tulis Seno. Tapi, dengan sejumlah pertimbangan, “There Goes Tatum” justru tak diajaknya.

Di Seribu Kunang-kunang di Manhattan, “There Goes Tatum” — berkisah tentang aksi seorang lelaki kulit hitam yang merampok mahasiswa asal Indonesia– pertama kali dimuat. Saya membaca kumpulan itu belasan tahun lalu saat diterbitkan ulang dengan menyertakan “Sri Sumarah”,  ”Bawuk”, dan dua cerpen Kayam lain. Konon, inilah puncak pencapaian literer Kayam, melampaui era Para Priyayi yang lahir belakangan. Pekan lalu, saat seseorang menawarkan cetakan pertama Seribu Kunang-kunang di Manhattan di sebuah milis, saya segera mengirim e-mail  kepadanya dan menuju ATM. Tahun depan, buku ini menginjak usia 40.