You are currently browsing the monthly archive for Agustus 2008.
DARI jauh Sukab sudah mendengar lagu dangdut itu.
selamat malam
duhai kekasih
sebutlah namaku
menjelang tidurmu
Langkah menjadi ringan, seringan hatinya sejak sore sudah melayang-layang. Tumirah, ya Tumirah, wanita itu sudah berjanji akan menunggunya di malam Tahun Baru. Sudah berjanji akan berjoget di lapangan terbuka, lapangan sepak bola di kampungnya yang kini menjadi arena pesta. Tumirah, Tumirah, telah dibayangkannya wanita bertubuh sintal itu, dengan kain dan kebaya merah, dengan rambut terurai sampai ke bahu, dengan sendal jepit merek Swallow, bergoyang dan bergoyang di arena jojing yang becek tapi membakar. Read the rest of this entry »
Havel dan Kafka,
Kwitang adalah semacam surga. Kini, surga itu tak lagi ada. Digusur. Para pedagang buku bekas yang puluhan tahun mendiami diminta pindah ke salah satu lantai di Pasar Senen, sekitar satu kilometer ke utara.
Hingga berita itu tiba, Kwitang seperti lolos dari ingatan. Sejak pertengahan tahun lalu, sejak pindah ke kantor sekarang, aku belum pernah lagi menginjakkan kaki di sana. Read the rest of this entry »
