You are currently browsing the monthly archive for November 2006.
Havel,
Senja tertinggal, tersengal-sengal di belakang. Malam menuju sempurna. Dan, kita masih di Bandung meski rutinitas kerja telah menanti esok hari. Aku melirik ke mommy-mu. Perutnya menggunung. Ini mungkin perjalanan luar kota terakhirnya sebelum persalinan adikmu.
Kita menyusuri Dago. Tak terlampau macet. Mobil-mobil pelat Jakarta sudah banyak menghilang. Sesampai Simpang Dago, aku ambil kanan, menghambur ke Dipati Ukur. Jalan itu kian ramai kini. Sejumlah sekolah membangun kampus di sepanjangnya. Kios-kios fotokopi bertambah eksis. Cahaya lampu berpendar-pendar.
Menjelang tikungan ke Sekeloa, aku sedikit menginjak pedal rem, memberi jalan pada ingatan untuk menjulur ke masa silam. Sekeloa, dulu, menjadi salah satu kawasan favorit tempat kos mahasiswa Unpad–apalagi mereka yang kuliah komunikasi dan kedokteran gigi. Dekat kampus, harga terjangkau, lokasi mengisi perut bertebaran. Enam tahun aku hidup di sana.
Deru roda berlanjut. Di sisi kanan, kampus tua itu masih tegak. Di sana, aku menonton teman-teman berdemonstrasi, menyajikan hasil riset, menemani ibumu saat pemberangkatan ke lokasi KKN, menyaksikan teater, ngariung di sebuah sekretariat unit kegiatan mahasiswa…
Aku memilih Jalan Hasanudin untuk mengantar kita kembali ke Dago. Pohon-pohon besar meningkahi keremangan. Aku mencari-cari Toko Yu. Tak ketemu. “Makan mie kocok dulu, yuk. Di Jalan Sunda,” kata mommy-mu. Oke, oke, keinginan ibu hamil kudu dilunasi.
Dago hanya perantara. Kita masuk Jalan Sumatera. Lahan parkir Kelapa Lagoon, tempatku berjumpa teman-teman lama beberapa jam sebelumnya, sesak oleh kendaraan. Lalu, belok kiri ke Jalan Veteran, dan merambah Jalan Sunda. Tapi, di mana tempat mie kocok itu? Kami memasang mata. Ah, Toserba Yogya terlampaui. Itu artinya target terlewati. Penyakit lupa ternyata telah menjangkiti. Kita pun memutar, karena Jalan Sunda diplot searah, balik lagi ke Sumatera dan seterusnya.
Seraya menikmati mie, aku memandangmu yang asyik mengunyah kerupuk. Kamu hampir lima tahun. Ada perasaan “tak ikhlas” melihatmu meninggalkan kepolosan seorang balita. Namun, waktu mustahil dilawan. Biarlah itu semua menjadi kenangan, seperti kami menapaktilasi sepotong Bandung, menyusuri lagi lebuh-lebuh yang menyimpan sekelumit cerita di kala muda.
Selepas pintu tol Pasteur, mataku terasa hangat…
Havel,
Ahmad Wahib juga berkisah di Pergolakan Pemikiran Islam tentang keberangkatan Nurcholish Madjid ke Amerika.
Pada Oktober 1968, Nurcholish pergi atas undangan Departemen Luar Negeri Amerika Serikat. “Orang yang anti Barat diundang untuk melihat negara Barat terbesar,” tulis Wahib di catatan hariannya yang menghebohkan tersebut. Nurcholish tinggal selama dua bulan. Usianya belum 30 tahun.
Di sana, ia mempelajari kehidupan kemahasiswaan, berdiskusi di sejumlah kampus. Ia bersua pula dengan Soedjatmoko, cendekiawan yang ditugaskan sebagai duta besar RI di Washington.
Sepulang dari Amerika, catat Wahib, mulai tampak perubahan-perubahan di diri Nurcholish. Ia mulai kepincut pada sisi-sisi baik humanisme, yang sebelumnya dicela sebagai agama baru.
Proses migrasi intelektual itu mencapai kulminasi pada Januari 1970. Yaitu, ketika ia menyajikan makalah di acara halal bi halal HMI-PII-Persami-GPI di bawah tajuk “Masalah Integrasi Umat dan Keperluan Pembaharuan Pemikiran Islam.” Nurcholish bilang, persatuan umat kalah penting dibandingkan dinamikanya. Sekularisasi mesti dipromosikan!
Dan, kalangan Muslim terpelajar pun gempar. Nurcholish bukan lagi Natsir muda, ujar sebagian orang. Tapi, dari mana datangnya perubahan itu? Apakah hanya lantaran dua bulan berada di Amerika? Para penggemar teori konspirasi agaknya punya jawaban sendiri: Nurcholish pasti telah “dibeli” bandit-bandit Yankee dan Zionis itu.
Cuma, segampang itukah pendirian intelektual pribadi dilumpuhkan, digantikan sesuatu yang sebelumnya dibenci? Mestinya ada “dentuman besar” yang mendahului. Aku belum pernah menemukan testimoni Nurcholish tentang hal ini.
Tapi, aku memergoki, Wahib berkeyakinan, “Kita yang menjadi pencinta demokrasi dan hak-hak asasi manusia harus ikhlas menahan diri dari memaksa pemerintah untuk melaksanakan demokrasi dan hak-hak asasi manusia.” Keseragaman wajah dua hal itu juga ditentang dengan alasan perbedaan situasi di antara Indonesia dan negara-negara Barat. Jika dipaksakan, sistem secara keseluruhan bakal terganggu. Periksa catatan bertanggal 3 Mei 1971.
Sikap Wahib itu lebih mencerminkan kehati-hatian ketimbang xenofobia. Lelaki Madura itu pasti mafhum, tak semua yang “Barat ” itu buruk, memang. Celakanya, ada saja sosok seperti Bush—pemimpin Amerika yang membikin ide demokrasi dan hak asasi manusia dicurigai sebagai topeng dari proyek perburuan minyak belaka. Dan, “Barat” menjadi pantas didamprat, seteru abadi.
Kini, aku bermimpi: Nurcholish dan Wahib ikut turun ke jalan, memprotes George W. Bush. Di kiri-kanan mereka, ada Ahmad Sumargono, Rizieq Shihab, Adian Husaini…
Havel,
Pada 1989, ketika menginjak usia 46 tahun, Marsillam Simanjuntak mempertahankan skripsi di Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Judulnya: Unsur Hegelian dalam Pandangan Negara Integralistik. Niscaya, ini bukan skripsi formalitas, yang dibikin sekadar agar bisa keluar kampus dengan menenteng status sarjana. Kata beberapa orang, mutunya tak kalah dengan disertasi.
Lima tahun kemudian, dengan sejumlah revisi di sana-sini, skripsi tersebut diterbitkan. Judulnya lebih singkat: Pandangan Negara Integralistik. Dua nama begitu kerap disebut di buku itu: Georg W.F. Hegel dan Supomo. Pemilik nama pertama ditengarai sangat memengaruhi si empunya nama kedua. Itu terbaca dalam proses penyusunan UUD 1945, yang juga melibatkan Supomo dan bapak bangsa lain.
Dari benak Supomo, meluncurlah pandangan negara integralistik: negara dan rakyat tak terpisahkan, keduanya memiliki kepentingan yang identik—lantaran itu, mustahil negara menindas rakyat. Maka, enyahlah individualisme dan liberalisme!
Ada Hatta yang menentang pandangan Supomo. Putra Minang itu menyerukan unsur-unsur kedaulatan rakyat. Dan, inilah ujung persabungan ide: Supomo kalah, tafsirnya masuk tong sampah sejarah. Namun, ketika Marsillam menulis karya itu, tafsir tersebut telah dimunculkan lagi ke permukaan. Dan, praktik politik Orde Baru mengafirmasinya.
Marsillam sendiri adalah salah seorang seteru Orde Baru. Gara-gara Malari, ia pernah masuk bui. Jika ingatanku tak berkhianat, saat itu ia bekerja sebagai dokter di Garuda Indonesia. Lepas dari penjara, aktivis 66 ini kembali ke Garuda. Tapi, akibat emoh mengikuti penataran P4, ia mesti hengkang.
Sedikit saja informasi yang aku miliki tentang Marsillam. Aku cuma pernah dengar, teman Gus Dur sejak kecil ini punya keluasan wawasan dan sangat kuat berlogika. Jangan berani menantang berdiskusi jika tak siap dengan segudang “amunisi.” Lalu, bahwa halak hita ini punya integritas, susah diajak kompromi. Ketika para politisi di Senayan tak meloloskannya sebagai anggota Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), beberapa tahun lalu, seorang teman berkata, “Duh, para koruptor pasti lega….”
Saat Pandangan Negara Integralistik terbit, arwah Supomo mungkin gerah di alam kubur. Kini, sejumlah kalangan gusar menyaksikan Marsillam masuk (lagi) ke lingkaran dalam istana.
