You are currently browsing the monthly archive for Oktober 2006.

Havel,

Perjalanan di Ramadan lalu membawaku pula pada Thomas L. Friedman. Saat transit di Kuala Lumpur, The World is Flat, karya pria bermisai tebal itu, menyorongkan diri dengan harga hemat. Dirilis April 2005, buku ini direvisi dan diperluas pada Januari 2006. Sebab, “I could and because I must,” tulis Friedman, peraih tiga kali penghargaan Pulitzer.

Pria keturunan Yahudi ini bertutur dengan memikat, menyajikan ilustrasi dan anekdot yang sarat. Untuk penulisannya, ia melancong ke India, China, dan sejumlah negara lain. Kolomnis The New York Times ini berbincang dengan banyak orang. Membacanya laksana mengikuti tur ke sentra-sentra penghela peradaban.

Pada kitab yang telah terjual sekitar dua juta kopi ini, Friedman membandingkan diri dengan Christopher Columbus. Selesai mencari rute tersingkat menuju India tapi justru menemukan benua Amerika, pada 1492, Columbus memberi laporan pada penguasa Spanyol: dunia ini bundar. Sepulang dari Bangalore, India, Friedman berbisik pada istrinya, “Sayang, aku pikir, dunia ini datar.”

worldisflatcov.jpg

(Ada catatan khusus. Aku tahu dari Wikipedia, beberapa pihak menganggap Friedman tak akurat. The Economist, misalnya, menulis, “Mr Friedman claims that this proved Columbus’s thesis that the world is round. It did nothing of the kind. Proof that the world is round came only in 1522, when the sole surviving ship from Ferdinand Magellan’s little fleet returned to Spain.” Pada 1492, orang masih percaya bahwa bumi ini datar.)

Intinya, buku ini ngomong bahwa, pada abad 21, wajah globalisasi berubah, terutama berkat teknologi yang berlari kencang. Kemajuan itu membuat “dunia menjadi datar,” membikin individu dan perusahaan di negara berkembang lebih berdaya untuk kompetisi. Persisnya, Friedman menyebut 10 pemicu. Di antaranya, keruntuhan Tembok Berlin, penggunaan open source, penawaran saham perdana Netscape, dan maraknya alih kerja.

Kita periksa sejenak soal alih kerja. Di sini, efisiensi biaya menjadi alasan utama. Ongkos insinyur komputer di Bangalore, misalnya, jauh lebih murah ketimbang di Silicon Valley. Lalu, kenapa tak meminta mereka saja yang merancang peranti lunak? Dengan e-mail dan teknologi komunikasi canggih lain, jarak bukan lagi kendala.

Friedman bercerita, dulu orang tuanya kerap berseru, “Finish your dinner. People in China and India are starving.” Kini, pada anak perempuannya, ia berujar, “Finish your homework. People in India and China are starving for your job.” Lelaki kelahiran 1953 itu tak membual. BusinessWeek mencatat, pada 2005, 15 ribu karyawan IBM di negeri Paman Sam diberhentikan. Sebagian besar lantaran pekerjaan mereka dipindahkan ke Asia.

(Dalam soal sepak bola, AS juga menjadi “korban” globalisasi. Franklin Foer memerikannya dengan bagus di How Soccer Explains the World: The Unlikely Theory of Globalization yang Juni lalu diterbitkan dalam versi bahasa Indonesia.)

Jadi, siapa bilang globalisasi hanya merugikan pengusaha tekstil di Majalaya atau petani di Karawang? Di seberang lebuh, tokoh seperti James Petras, Vandana Shiva, atau Noam Chomsky punya argumentasi sendiri. Persabungan pendapat yang tak kunjung usai.

Di tengah hiruk-pikuk perdebatan itu, kita terus “memanfaatkan” dan “dimanfaatkan” globalisasi. Lihat, aku membeli The World is Flat dengan kartu kredit lantaran hanya menyimpan rupee, bukan dolar atau ringgit. Kartu itu leluasa bekerja saat sekat-sekat lenyap, bukan ketika negara-negara dipingit….

Havel,

Kemiskinan terhampar. Kering. Kumuh. Sepanjang perjalanan ini, menuju “cinta abadi” buat Mumtaz. Seabad tertinggal, ujar kawan sebelahku. Mungkin dia keliru, tapi ngilu memang menyerang. Miris. Sisi kelam negeri yang kian dekat dengan predikat gergasi ekonomi baru–bersama China, tentu saja.

Dan, inilah tanah yang melahirkan Rabindranath Tagore, Amartya Sen, Jawaharlal Nehru, Arundhati Roy, Sahrukh Khan, Mahatma Gandhi, Prakash Padukone, Manmohan Singh, Kiran Desai….

Havel,

Minggu siang yang terik, usai membikin kunci serep, kita melangkah ke Mal Cinere. Kamu sibuk dengan soft drink di plastik. “Kita ke Gramedia, Ayah,” ujarmu. (Hmm…pasti ada maunya anak ini, aku membatin). Tapi, tujuanku memang toko buku itu. Kita pun berpencar. Kamu ke bagian buku anak-anak.

Dari rak yang memajang buku-buku baru, aku mencomot edisi terjemahan Inside the Kingdom karya Carmen bin Laden. Dari namanya, kita segera tahu siapa Carmen. Perempuan keturunan Swiss dan Persia ini menikahi Yeslam bin Laden, kakak Osama, pada 1974. Keduanya pertama kali berjumpa di Jenewa saat sejumlah anggota keluarga bin Laden menyewa rumah orang tua Carmen untuk liburan. Keluarga itu amat kaya sehingga liburan  di Eropa  sama gampangnya dengan  jika kita hendak ke rumah  Zhifa, sepupumu, di Ciganjur.

Di rumah, aku membolak-balik halaman kitab tipis itu. Sedikit demi sedikit, informasi meluncur. Demi cinta, Carmen mencemplungkan diri ke sebuah kultur yang sama sekali asing, ketika mereka menetap di Jeddah. Ia, misalnya, dilarang meninggalkan rumah tanpa membungkus tubuh dari kepala sampai ujung kaki. Ia bahkan tak boleh menyeberang jalan tanpa didampingi seorang perempuan tua yang menjadi pengawasnya. Juga tak diperkenankan menyetir mobil.

Kultur itu bukan hanya asing, tapi juga dianggapnya merendahkan kemanusiaan. “Orang-orang Saudi adalah Taliban, dalam kemewahan,” tulis Carmen. Ia pun melawan. Bercerai. Pergi memburu kebebasan, bersama tiga puterinya.

Secara naluriah, manusia selalu berupaya melawan setiap larangan. Kamu pun melakukannya. Sabtu siang, pulang les musik, kamu dan ibumu juga ke Gramedia Mal Cinere. Kamu minta dibelikan sebuah komik. Ibumu menampik. Saat kita ke sana pada Minggu siang, tanpa ibumu, kamu mengulangi permintaan itu dan…sukses. Aku hanya bengong ketika, sesampai di rumah, ibumu berkata, “Lo, ini komik yang kemarin diminta Havel tapi aku gak kasih…”