You are currently browsing the monthly archive for Juli 2006.
Havel,
Lama bermukim di Amerika, seorang teman mudik sejenak ke Indonesia. Kami–belasan orang– lalu berhimpun, ditingkahi dentam musik dan seafood yang menggugah selera. Suasana hangat dengan gurau canda.
Bernostalgia, kami mengungkit lagi kisah-kisah semasa sekolah. Melulu nostalgia. Tapi, apa yang salah? Hari ini dan esok mustahil eksis tanpa hari kemarin. Persoalannya cuma dosis. Apa saja yang terlampau banyak tentu dekat dengan mudarat.
Dan, seorang Amir pun mesti menapaktilasi sejarah pribadinya. Di Afghanistan, negeri yang letih oleh konflik berkepanjangan itu, ia harus menghadapkan wajah ke belakang. Padahal, hanya perih dan sedih di sana. Simaklah kisahnya di The Kite Runner (Aku baru tuntas membacanya pekan lalu. O, iya, terima kasih buat Khaled Hosseini yang telah menghadirkan cerita amat menyentuh ini).
Havel,
Kamu berguling-guling di pasir. Sementara, kami mesti menghadapi nenek penjual emping, anak muda penjaja otak-otak. Anyer, siang itu, sunyi. Barangkali kita tiba terlampau dini. Laut terhampar. Ombak menampar-nampar. Cahaya matahari membasuh. Keelokan yang utuh.
Waktu berlari, rindu pantai lagi. Sedihnya, kemarin, di pesisir Selatan, dari laut, maut datang menjemput….
Havel,
Kegembiraan bisa menyala kapan saja. Pekan ini, titik apinya adalah kedatangan Bre-X: Sebungkah Emas di Kaki Langit karya Bondan Winarno. Ini buku yang lama kuinginkan. Ini buku yang membuatku malu hati karena belum menyimaknya meski banyak orang menyeru: Bre-X adalah salah satu sampel terbaik praktik jurnalisme investigatif di Indonesia.
Bre-X berfokus pada dugaan skandal cadangan emas di Busang, Kalimantan Timur. Berita soal Busang menghiasi koran-koran kita pada akhir 1996 sampai awal 1997. Selesai dicetak awal Juli 1997, buku yang dikerjakan hanya dalam dua bulan itu baru bisa diedarkan seusai Orde Baru makzul. Seorang pejabat memanggil Bondan dan menitahkan agar barang itu tak keluar gudang.
Buku ini tak beredar lagi di pasar. Tak juga di bursa buku seken seperti di TIM atau Kwitang. Aku memesan langsung ke penulisnya.
Kini, publik lebih mengenal Bondan sebagai pakar kuliner. Kolomnya, Jalansutra, terbit reguler di Suara Pembaruan dan Kompas Cyber Media. Beranjak dari itu, terbentuklah milis Jalansutra yang telah beranggotakan lebih dari lima ribu orang. Pria kelahiran Surabaya ini juga memandu acara kuliner di sebuah stasiun televisi.
Agaknya sedikit yang masih ingat bahwa pria yang sekolahnya berantakan ini juga cerpenis dan kolumnis manajemen. Di rumah Cinere, kita menyimpan dua jilid antologi tulisan Bondan tentang manajemen di Tempo di bawah nama Kiat pada era 1980-an. Fiuuuhh, di sana kita tak perlu cemas bakal “tersesat” di belantara teori dan angka, dengan jidat berkerut.
Kita juga mengoleksi Pada Sebuah Beranda, kumpulan cerpennya yang mengingatkanku pada Umar Kayam di Seribu Kunang-kunang di Manhattan: gaya bercerita dan latar kisah yang kebanyakan di mancanegara. Perihal cerpen-cerpen Bondan, Goenawan Mohamad pernah menulis, “Bagi saya, banyak yang dihasilkan Bondan lebih enak saya ikuti ketimbang novel-novel penuh filsafat atau cerita-cerita penuh problem sosial – yang isinya cukup berharga dan bermanfaat – tapi tak kunjung bisa memikat sejak awal.”
Hmm, kegembiraan memang bisa menyala kapan saja. Boleh jadi, titik apinya adalah bacaan-bacaan yang mengasyikkan…
Kerling danau di pagi hari
Lonceng gereja bukit Itali
Jika musimmu tiba nanti
Jemputlah abang di teluk Napoli
Kerling danau di pagi hari
Lonceng gereja bukit Itali
Sedari abang lalu pergi
Adik rindu setiap hari
Kerling danau di pagi hari
Lonceng gereja bukit Itali
Andai abang tak kembali
Adik menunggu sampai mati
Batu tandus di kebun anggur
Pasir teduh di bawah nyiur
Abang lenyap hatiku hancur
Mengejar bayang di salju gugur
(Havel, sepupumu bertambah satu. Perempuan, seperti kakaknya. Namanya: Ferarri Milano. Ehm, Italia banget, padahal ayahnya asli Kutoarjo. Kupilih sajak opung Sitor Situmorang di atas untuk mengantarkan kita pada ujung perhelatan terakbar sejagat tahun ini. Jika Italia gugur, hatiku pun hancur..he..he..)
Havel,
Aku berjumpa seorang kawan lama. Tak sengaja. Dulu, kawan ini dikenal sebagai demonstran di kampus. Saban ada unjuk rasa, bisa dipastikan dia ada di baliknya. Kami tak terlalu akrab, bahkan beberapa kali bersilang pendapat soal aktivisme mahasiswa. Kita sebut saja dia: Fulan.
“Apa kabar, Fulan?” aku menyapa.
“Ya, beginilah, namanya juga penganggur,” ujar Fulan, merendah.
Aku mafhum, dia tak bisa dikategorikan sebagai penganggur. Diam-diam, aku mengamati: t-shirt-nya lusuh, begitu pula sandal kulit itu. Kami tenggelam dalam perbincangan, beberapa menit. Dia belum berubah. Tetap asyik di jalur politik. Hari-hari ini, Fulan sibuk membantu seorang bakal kandidat kepala daerah.
Setelah kami berpisah, aku tercenung: barangkali ini semacam anakronisme. Teman-teman lain telah hidup cukup mapan, Fulan masih “bertualang di jalanan.” Niscaya, itu bukan sebuah kesalahan, apalagi jika itu merupakan pilihan. Tapi, aku tak pernah berani bertanya: apa yang membuat elu memilih jalan ini? Sampai kapan?
Terus terang, aku agak khawatir dengan langkah-langkah kawan seperti Fulan. Aku mendengar, seorang karibnya –sesama demonstran di masa mahasiswa–sempat menjadi “ajudan” tokoh politik lokal di Bandung. Sayangnya, tokoh itu tak memiliki rekam jejak yang “putih” sebagai politisi.
Dari latar belakang keluarga, Fulan terbilang sejahtera. Meski juga anak rantau, dia tak pernah terlihat kekurangan uang. Ah, aku jadi ingat: aku masih berutang beberapa belas ribu rupiah padanya. Duit itu kugunakan untuk menikmati Brave Heart –film yang dibintangi Mel Gibson–di Kiara Condong bersama ibumu (saat itu, kami baru resmi bebogohan..he..he..).
Ya, semoga, aku meminjam dari seseorang yang juga memiliki brave heart. Pun, sampai kini….

