You are currently browsing the monthly archive for Juni 2006.
Havel,
Kemarin siang, ketika matahari memanggang Kwitang, aku menemukan Killing Pablo: The Hunt for the World’s Greatest Outlaw. Fisiknya masih lumayan bagus, aku membawanya pulang dengan menyerahkan selembar fulus bergambar WR Supratman.
Buku ini berkisah tentang perburuan pemerintah AS dan Kolombia atas Pablo Escobar, pemimpin kartel narkotika di Kolombia. Uniknya, di kalangan rakyat jelata negeri itu, Escobar justru banyak dikenang sebagai seorang dermawan. Tolong diingat, pada 1989, majalah Forbes meletakkan Escobar di posisi ketujuh dalam daftar orang-orang tertajir sedunia. Empat tahun kemudian, kepala Escobar tertembus peluru.
Penulis Killing Pablo adalah Mark Bowden. Beberapa tahun silam, Black Hawk Down pernah singgah ke Indonesia dalam format pita seluloid. Film itu merekam “kedunguan” pasukan AS dalam menghadapi perang kota di Somalia pada 1993. Ridley Scott, sang sineas, mengangkatnya dari kisah yang ditulis Bowden (Aku belum membaca, baru menontonnya).
Bowden menyusun Black Hawk Down sebagai cerita bersambung untuk The Philadelphia Inquirer. Menjelang pemuatan, Max King, Redaktur Eksekutif koran itu, konon pernah berujar,”Aku tak tahu apakah ini akan diterima. Jika tak seorang pun tertarik, kami bakal terlihat sebagai si tolol yang cantik dengan sebuah serial yang berjalan hari demi hari selama satu bulan… Jika sebuah kisah seperti ini tak laku, aku tak yakin ingin terlibat dalam jurnalisme lagi.”
King tak perlu pensiun dini. Kisah itu diresepsi dengan baik. Bahkan, membuat tiras The Philadelphia Inquirer sempat melonjak. Bowden, kelahiran Missouri pada 1951, lantas mulai disejajarkan dengan nama-nama harum di ranah jurnalisme naratif: John Hersey, Truman Capote, atau Gay Talese. Ketika dibukukan, Black Hawk Down pun mengalirkan banyak duit ke kocek penulis dan penerbitnya.
Pada 2001, lahir Killing Pablo. Empat tahun dibutuhkan Bowden untuk menggarapnya. Ia menyimak dokumen-dokumen rahasia, berbincang dengan puluhan narasumber, termasuk Cesar Gaviria, presiden Kolombia di momen dramatis itu. Aku baru mulai menikmatinya—barangkali sambil bermimpi bisa melakoni kerja seperti ini juga, suatu hari kelak.
Satu hal, aku yakin, Bowden tak berselera untuk menjadi pengeras suara Washington. Aku sempat mengintip paragraf terakhir. Di sana, Bowden mengutip Joe Toft, mantan kepala perwakilan DEA di Bogota. Toft berkata, “I don’t know what the lesson of the story is. I hope it’s not that the end justifies the means.”
Havel,
Hangat mentari musim semi, mandikan ini
dengan cahayamu
Hangat angin selatan, hembuskan napasmu
perlahan
Dan rumput hijau di atas, tegaklah tenang
damai
Selamat malam, yang tercinta, selamat malam.
(Mark Twain)
Senantiasa tersaji puisi untuk membuka kisah Balada Si Roy. Atau deretan kalimat bijak. Atau pepatah lama. Salah satunya adalah nukilan di atas. Senantiasa memuncratkan impresi. Para lelaki seusiaku, yang menginjak masa remaja di pengujung 1980-an di Jakarta atau kota besar lain, bisa dipastikan mengenal cerita rekaan Gola Gong itu. Bahkan, konon, tak sedikit yang tersihir. Lalu, figur Roy menjadi model identifikasi diri.
Aku memergoki kembali sekeping kenangan ini di atrium Depdiknas, pekan lalu. Dan, memungutnya.
Seiring jeda, ada celah untuk mencerna ulang. Menurut seorang penulis muda, membaca Balada Si Roy adalah juga belajar tentang cara menjadi lelaki. Masalahnya, “Yang penting dari lelaki adalah menjadi berani: berani untuk memilih; berani untuk memiliki;…” tulisnya. Perempuan tidak demikian? Wow, para feminis bisa keki karena kaum lelaki mengalami mistifikasi.
Musim berganti, kisah itu tak terbit lagi. Gong juga berubah. “Setelah menikah, hidup saya sebagai lelaki sudah selesai. Kini saya sebagai suami dan ayah,” ujarnya. Karya-karyanya kini banyak menyemburkan aroma relijiusitas. Teduh dan santun. Niscaya, tak memprovokasi para remaja untuk bangga ketika tinggal kelas atau mengisap ganja–yang diakui Gong memang terjadi dan menjadi impak buruk Balada Si Roy.
Ia telah membiarkan Roy pergi.
Pergilah ke barat, anak muda,
dan tumbuhlah bersama alam
(Horace Greeley)
