You are currently browsing the monthly archive for Mei 2006.
waktu lonceng berbunyi
percakapan merendah, kita kembali menanti-nanti
kau berbisik: siapa lagi akan tiba
siapa lagi menjemputmu berangkat berduka
di ruangan ini kita gaib dalam gema. Di luar malam hari
mengendap, kekal dalam rahasia
kita pun setia memulai percakapan kembali
seakan abadi, menanti-nanti lonceng berbunyi.
(Havel, suasana dalam sajak Sapardi Djoko Damono di atas jauh lebih mencekam. Sementara, aku cuma dihajar virus flu keparat ini. Terkapar memang. Ah, sesekali, tubuh boleh saja tak sehat. Namun, pikiran jangan sekali-kali berkarat…)

