You are currently browsing the monthly archive for April 2006.


Waktu kami tiba di Buru, sebenarnya yang pertama-tama ingin saya (
Soemitro, YA) temui adalah pengarang Pramoedya Ananta Toer yang banyak dipertanyakan orang sewaktu saya di Eropa dalam perjalanan pulang dari Aljazair itu. Tapi, hari itu saya tidak bisa menemuinya. Katanya, ia sedang diisolasi, karena malam sebelumnya ia berontak dan merebut senjata. Jadi, ia dipegang dan dimasukkan ke dalam sel, diisolir.

(Ramadhan K.H., Soemitro: Dari Pangdam Mulawarman Sampai Pangkopkamtib, Sinar Harapan, 1994)

Waktu rumah saya diserbu orang, ada dua puluh naskah saya yang sudah siap untuk diterbitkan. Semua itu kini hilang,” ujar Pramudya. Di Tefaat satu-satunya bacaan yang diizinkan bagi para tapol ialah buku-buku agama, maka saya bertanya,”Baca buku apa di sini, Pram?”
“Catholic Digest,” jawabnya.
“Sudah menemukan Tuhan di sini, Pram?” tanya Mochtar Lubis tanpa tedeng aling-aling.
“Tuhan yang mana?” balik bertanya Pramudya.

(H. Rosihan Anwar, Perkisahan Nusa: Masa 1973-1986, Grafitipers, 1986)

Saja mentjoba menebak sikapnja, ketika saja kebetulan berhasil memperoleh kesempatan berbitjara dengannja tanpa pengawal sore itu di depan Barak XIX. Umurnja 44, saja ingat, tapi di bawah rambutnja jang terlalu tjepat memutih itu sorot matanja tetap seperti dulu, tjampuran keangkuhan dan kepahitan, tangkas, tjerdas, dan keras, tidak djuga redup, memandang sekitarnja tanpa senyum, tanpa ketenteraman dan dengan segaris kebimbangan.

(Goenawan Mohamad, Suatu Hari dalam Kehidupan Pramudya Ananta Toer, dimuat di Potret Seorang Penjair Muda Sebagai Si Malin Kundang, Pustaka Jaya, 1972)


gubuk sunyi di pinggir danau

diam-diam tersenyum dipeluk mentari senja
yang juga nakal meraba-raba
ujung bunga rerumputan

lagu alam memang sunyi, sayang
apalagi sore ini:
sore ini sore sabtu, sore biasa kita berdua
membelai mentari senja
ujung jalan bandung utara

mentarinya yang ini juga, sayang
cuma jarak yang memisah kita
seribu mil lebih sedepa
seribu mil pun lebih sedepa

lagu alam memang sunyi, sayang
lagipula bukan puisi
cuma bahana yang diam-diam
lalu bangkit dari dalam hati

gubuk sunyi di pinggir danau
lagi jarak yang memisah kita
seribu mil lebih sedepa
seribu mil pun lebih sedepa

lagu dan lirik: Iwan Abdulrachman

(Abah Iwan menggelar konser hari ini, Havel. Tak banyak lagi yang ingat karya-karyanya yang puitis, mengiris-iris. Ah, nostalgia selalu mencari celah untuk menyapa. Suatu ketika, aku ingin mengajakmu mengunyah suasana Lembang dan Dago Pakar. Tentu, tanpa jarak yang memisah kita…)

Havel,

Puluhan tahun silam, Bertrand Russel menyusun esai bertajuk The Recrudescence of Puritanism. Pada 1988, Mochtar Pabottingi menerjemahkannya untuk antologi karya-karya Russel yang diterbitkan Yayasan Obor Indonesia dan Gramedia. Empat tahun kemudian, aku menemukannya. Di hari-hari ini, tulisan filsuf Inggris itu demikian relevan untuk dicerna kembali. Berikut nukilannya:

Kita harus belajar untuk saling menghormati kebebasan pribadi dan tidak memaksakan kaidah-kaidah moral kita atas orang lain. Kaum Puritan membayangkan bahwa kaidah-kaidah moral mereka itulah kaidah-kaidah moral sejati. Ia tidak menyadari bahwa zaman-zaman serta negeri-negeri, bahkan kelompok-kelompok sosial lain di negeri sendiri, mempunyai kaidah-kaidah moral yang berbeda, yang juga merupakan hak mereka…..Marilah kita berharap bahwa suatu pendidikan yang lebih merata dan suatu pengetahuan yang lebih luas atas umat manusia akhirnya berangsur-angsur akan meredakan semangat tuan-tuan kita yang terlalu bajik.”