lima lagu tentang anak

Anak saya dua, laki-laki semua. Kami, saya dan istri, terkadang lelah dengan kenakalan mereka. Jera? Jauh dari itu. Ah, bertahun-tahun lampau, saya bersua terjemahan kata-kata  Rabindranath Tagore: anak adalah pertanda bahwa Tuhan belum jera dengan manusia. Dan, seiring lahirnya para bocah, lagu-lagu tentang anak terus dicipta. Beberapa di antaranya terpatri di kepala.

1. Last Kiss [Wayne Cochran via Pearl Jam]

Wayne Cochran merilis lagu ini di awal 1960-an. Sejumlah artis kemudian turut menyanyikannya, termasuk Pearl Jam. Bercerita dari sudut pandang seorang ayah yang kehilangan anaknya di jalan. Sedih yang sungguh.

I held her close, I kissed her our last kiss

I found the love that I knew I would miss

But now she’s gone, even though I hold her tight

I lost my love, my life that night.” Read more…

matahari dan harapan

Pak Rosihan,

Di Perkisahan Nusa: Masa 1973-1986, Anda bercerita soal kunjungan ke Pantai Kuta, Bali, seusai bicara di Rapat Koordinasi RRI-TVRI. Anda ke sana bersama Zulharmans (saat itu Ketua PWI) dan Jakob Oetama (saat itu Pemimpin Redaksi Kompas). Menyaksikan matahari tenggelam menjadi tujuan.

Pantai Kuta, tulis Anda di buku itu, penuh dengan turis asing dan domestik. Mereka mandi di laut, berjemur di pantai, dan dipijat di bawah langit terbuka di atas pasir yang panas. Oh ya, Anda rupanya takjub dengan kegemaran orang bule untuk mensawomatangkan kulit mereka. Read more…

seribu kunang-kunang di manhattan

Seno Gumira Ajidarma bilang, andai hanya satu yang mesti dipilih dari 300 cerpen, ia akan  menunjuk “There Goes Tatum” karya almarhum Umar Kayam. Itu dikemukakannya ketika menjadi editor antologi cerpen terbaik Kompas periode 1970-1980. “…dari sudut kematangan teknik bercerita, cerpen yang ditulis di New York pada musim panas tahun 1961 ini lebih dari unggul. Tidak sebaris pun kalimat dalam cerpen ini diturunkan dengan untung-untungan (“siapa tahu dianggap bagus”)…” tulis Seno. Tapi, dengan sejumlah pertimbangan, “There Goes Tatum” justru tak diajaknya.

Di Seribu Kunang-kunang di Manhattan, “There Goes Tatum” — berkisah tentang aksi seorang lelaki kulit hitam yang merampok mahasiswa asal Indonesia– pertama kali dimuat. Saya membaca kumpulan itu belasan tahun lalu saat diterbitkan ulang dengan menyertakan “Sri Sumarah”,  ”Bawuk”, dan dua cerpen Kayam lain. Konon, inilah puncak pencapaian literer Kayam, melampaui era Para Priyayi yang lahir belakangan. Pekan lalu, saat seseorang menawarkan cetakan pertama Seribu Kunang-kunang di Manhattan di sebuah milis, saya segera mengirim e-mail  kepadanya dan menuju ATM. Tahun depan, buku ini menginjak usia 40.


keajaiban di pasar senen

Akhir pekan lalu, saya dan istri melintas di kawasan Senen, Jakarta Pusat. Sudah dua jam lewat dari tengah malam. Di terminal, rada gelap dan sunyi. Beberapa mikrolet parkir. Tak banyak orang. Tapi, hanya puluhan meter dari sana,  para pedagang kue subuh dan para (calon) pembeli bikin ramai suasana. Melihat hiruk-pikuk itu, saya teringat Keajaiban di Pasar Senen.

Buku tersebut memuat sejumlah sketsa karya Misbach Yusa Biran, kocak tapi getir, tentang orang-orang yang punya cita-cita menjadi seniman di era 1950-an di Jakarta. Justru lantaran baru merintis karier kesenimanan, kelucuan-kelucuan gampang terbangun. Mereka saling berbual soal kehebatan dalam berkarya, problem ekonomi yang mendera, sampai tentang kesulitan menjelaskan pada para tetangga bahwa seniman berbeda jauh dengan pegawai pada lazimnya. Dan, Pasar Senen menjadi tempat mereka nongkrong, terutama di malam hari.  Read more…

mukti

Baru empat lagu, air tiba-tiba tercurah deras dari langit di atas Omah Sendok. Di saat jeda itu saya menghampirinya. Kami bersalaman. “Awak beuki subur, yeuh,” kata Mukti-mukti. Di bahunya, tersandang gitar kecil berbodi unik.

Saya hanya tertawa. Saya melirik, perutnya juga tak seramping dulu. Belasan tahun silam, saya pernah “singgah” sebentar di lingkungan mahasiswa yang gemar berteater, menekuni sastra, dan menggauli film. Mukti sering muncul di sekretariat kelompok itu. “Girok…Girok..” ujarnya. Girok = bagi rokok. Maksudnya, ia kehabisan rokok dan berharap ada teman-teman yang memberi. Read more…

pele dan para durjana sepak bola

Bertahun-tahun setelah pensiun, Pele berlimpah kekayaan. Bekas mahabintang ini menjadi bintang iklan Mastercard, Samsung, Coca Cola, dan sejumlah merek lain. Ia juga didapuk menjadi “duta besar” perusahaan minyak pelat merah Brasil, Petrobas.

Dengan fulus di tangan, pada 1993, ia hendak membeli hak siar kompetisi sepak bola Brasil. Tentu saja, ia harus berhadapan dengan Confederação Brasileira de Futebol (CBF), PSSI-nya Negeri Samba itu. Alih-alih diminta menempuh proses tender secara fair, petinggi CBF meminta Pele mengirim satu juta dolar ke rekening sebuah bank di Swiss jika mau keinginannya dipertimbangkan. Read more…

buku 2010: pembelian “terbaik” saya

Akhir tahun menjelang. Ya, sepanjang tahun ini, saya masih gemar berburu buku tapi tetap sering rada malas membacanya…ha…ha…

Saya membeli buku baru, tapi juga asyik mengejar buku seken. Kebanyakan berbahasa Indonesia, sebagian kecil berbahasa Inggris. Saya beruntung lantaran, misalnya, menemukan The Powers That Be karya David Halberstam, namun juga harus “dikasihani” karena belum menyentuh Rahasia Selma karya Linda Christanty yang banyak dipergunjingkan itu. Read more…

politik itu, senator

Demokrasi berakhir di negeri itu. Tentara melancarkan kudeta. “…tak ada cara lain. Rezim ini busuk. Apa yang akan terjadi pada negeri ini jika kalian tak mengangkat senjata?!” kata Senator Esteban Trueba kepada seorang perwira di kantor Kementerian Pertahanan, tak lama setelah istana berhasil dikuasai dan Sang Presiden dicokok.

Di lubuk hati Trueba sejatinya terbit keraguan. “Aku punya firasat bahwa keadaan tidak berjalan sesuai rencana…” katanya membatin. Sebelumnya, pihak militer meminta kunci mobilnya dengan alasan Kongres telah dibubarkan. Maka, segala fasilitas selaku senator juga harus dilepaskan. Kediktatoran membayang di mata Trueba. Read more…

john lennon dalam dua percakapan

David Sheff tertegun. Yoko Ono maju dengan pertanyaan: “Apa zodiakmu?” Saat itu, September 1980, Sheff  ditugasi Playboy untuk mewawancarai John Lennon (dan Ono).

Sejak 1975, Lennon menolak diwawancarai media. Lalu, kesempatan itu tiba. Sebelumnya, Sheff telah datang bersama editor Playboy untuk membahas “aturan main” wawancara. Menanggapi sodoran referensi tokoh-tokoh lain yang telah diwawancarai  Playboy, Ono berujar, “Orang-orang seperti (Jimmy) Carter hanya mewakili negara mereka. John dan saya mewakili dunia.” Read more…

tujuh lagu cinta paling “anu”

Saya jadi korban provokasi. Teman saya di FB, Philips Vermonte dan Nuran Wibisono, membikin daftar lagu “cinta” paling oke menurut mereka masing-masing. Dibandingkan mereka, saya menyodorkan dua lagu lebih banyak. Dibandingkan mereka, wawasan musik saya sangat menyedihkan. Tapi, inilah versi saya. O, iya, lupakan soal urutan.

1. Trust —- The Cure

Saya pernah memberikan kompilasi lagu kepada pacar saya. Ini salah satu lagunya. Sejatinya, lirik yang digelar sangat biasa. Tapi, suasana dari komposisi dan aransemennya gampang membuat hati jadi hangat. Read more…

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.