tokoh yang diperdaya

Posted Juni 16, 2008 by
Categories: Uncategorized

Havel dan Kafka,

Baru setengah jalan, sudah tak kuat menahan hasrat berkomentar. Secara tematik, Rahasia Meede asyik benar. Ini perjalanan ulang-alik di pematang sejarah. E.S. Ito, sang pengarang, menyiapkan diri dengan baik, dengan riset yang bikin iri.

Ini karya yang bagus, kata banyak orang. Lihat, endorser yang hadir di sampul juga bikin gentar: Harry Poeze, Fadjroel Rachman, Budiman Sudjatmiko, Chatib Basri, dan seterusnya.

Tapi, menurutku, Ito terlalu “pintar,” sekaligus kurang mampu menahan diri. Ia membiarkan diri merasuk ke dalam para tokoh. Indikasinya mudah: keseragaman gaya berbicara mereka.

Simak saja:

Bangsa macam apakah Belanda itu sehingga begitu sakit jejak yang ditinggalkan sepatu lars mereka?” (Guru Uban, guru sejarah sebuah SMA di Bojonggede, Depok.)

Tidakkah Cathleen pernah membaca semua riak zaman ini?” (Suhadi, Kepala Bagian Arsip Kolonial, Arsip Nasional RI.)

Sebuah monumen telah dihancurkan. Saksi masa lalu disingkirkan. Sebuah bangsa merana karena kehilangan serpihan masa lalunya.” (Gatot, wartawan koran Indonesiaraya.)

Ya, pertarungan antara kebudayaan dan mesin keserakahan. Tidak ada pemahaman keragaman budaya dalam globalisasi. Yang terjadi aneksasi. Lantas siapa yang menang? Primata-primata tanpa budaya. Tuan-tuan pemilik modal.” (Anwar Rosady, peneliti budaya Mentawai.)

Aku tidak mau diperbudak oleh henpon. Sinyal lebih sering mengirimkan kecemasan dibanding ketenangan.”(Suryo Lelono, direktur eksekutif lembaga riset, Centre for Strategic Affair.)

Terus-terang, aku terganggu. Cerita kehilangan kelincahan. Pengarang terus-menerus merecoki. Tokoh diperalat selaku instrumen penyampai “khotbah.”

Mestinya biarkan para tokoh menjalani kehidupan masing-masing. Indah jika pengarang bertekun diri di tepian kisah. Pengarang hanya muncul sesekali, dalam narasi, semata agar pembaca selalu berada di koridor alur dan konteks.

Meski begitu, permisi, aku hendak melanjutkan membaca. Seru, sejatinya…

surat untuk munarman

Posted Juni 3, 2008 by
Categories: Uncategorized

Havel dan Kafka,

Ini kali bukan kisah untuk kalian. Tapi, sepucuk salam untuk seseorang bernama Munarman.

—————-

Assalamualaikum,

Munarman, apa kabar? Saya dengar, polisi sudah mencari Anda. Mudah-mudahan sehat selalu. Jaga fisik senantiasa. Bukankah itu modal utama Anda belakangan ini?! Hal yang Anda sebut “perjuangan” mungkin masih akan panjang.

Nah, soal catatan kiprah Anda di ranah publik, agaknya belum cukup panjang. Saya ingat bahwa Anda pernah menjadi Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Kekerasan (Kontras). Anda menggantikan almarhum Munir, yang kemudian juga menjadi korban para durjana. Anda sendiri memasuki lingkungan LSM sejak 1995 saat menjadi relawan di LBH Palembang. Read the rest of this post »

preman-preman itu…

Posted Juni 1, 2008 by
Categories: Uncategorized

Havel dan Kafka,

Insiden itu tak bisa diterima. Harus dikutuk. Dikecam sekeras-kerasnya. Dan, aparat hukum mesti bertindak. Sama sekali tak ada hak buat Front Pembela Islam (FPI) dan konco-konconya untuk membubarkan acara Aliansi Kebangsaan Untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) di Lapangan Monas tersebut. Kebrutalan mereka, sekali lagi, mencoreng nama Islam.

Anak-anakku, jika mereka terus dibiarkan, aku sungguh khawatir dengan nasib republik ini, republik yang juga menjadi tempat kalian tumbuh ini…

brad dan angelina

Posted Mei 12, 2008 by
Categories: Uncategorized

Havel dan Kafka,

Pasang mata, pasang telinga. Ternyata inspirasi bisa datang dari mana saja. Tak terkecuali, dari ranah selebritas yang di sini kerap dicerca.

———————

Brad Pitt & Angelina Jolie
By George Clooney

It is one thing to talk about the problems of the world and quite another to actually try to change things.

As a team, actors Brad Pitt, 44, and Angelina Jolie, 32, have served as our goodwill ambassadors worldwide. They brought help to Pakistan in 2005, after a catastrophic earthquake killed tens of thousands of people and left millions homeless. They have tended to the poor and sick in Africa. And they’ve raised global awareness—and contributed $1 million of their own money—for the victims of atrocities in Darfur. Brad co-founded Not on Our Watch, an organization set up to focus global attention on Darfur and other hot spots.

In the U.S., Brad and Angelina didn’t just talk about, or even just throw money at, the tragic fallout from Hurricane Katrina. They actually moved to New Orleans and have set about trying to make right what so many have made wrong. Brad established a project to finance and build 150 new homes in the Ninth Ward.

Angelina has worked tirelessly through the United Nations on behalf of refugees around the world, touring border camps in Africa, Asia and Latin America and lobbying on Capitol Hill. The couple cares for three adopted children, from Cambodia, Ethiopia and Vietnam, in addition to their biological daughter.

There are hundreds of people who could be honored for their good works, but I’ve seen Brad and Angelina firsthand, and their commitment together is truly impressive.

*) Clooney is actively engaged in trying to resolve the Darfur crisis

(sumber tulisan di atas adalah ini.)

freud

Posted Mei 6, 2008 by
Categories: Uncategorized

Havel dan Kafka,

Kala harapan tak selalu mampu diwujudkan, Sigmund Freud juga pernah merasakan. Ia sejatinya hanya ingin berkutat dalam urusan penelitian. Namun, rumah tangganya bersama Martha Bernays tak cukup dibiayai oleh gaji seorang peneliti. Maka, dengan berat hati, Freud pun membuka praktik selaku dokter saraf. Read the rest of this post »

tiket

Posted April 30, 2008 by
Categories: Uncategorized

Havel dan Kafka,

Aku ingin tahu: apa yang ada di kepala para perusak tempat ibadah itu? Jangan-jangan, mereka berpikir, tiket ke surga sudah di tangan. Tak usah antre panjang di loket, plus dapat diskon gede-gedean.

ekonomi dan puisi

Posted April 18, 2008 by
Categories: Uncategorized

Havel dan Kafka,

Bagaimana seorang ekonom menggeledah puisi? Arianto Patunru melakukannya atas Jantung Lebah Ratu, antologi puisi Nirwan Dewanto. Bacalah risalah ini.

bung kecil

Posted April 6, 2008 by
Categories: Uncategorized

Havel dan Kafka,

Sutan Sjahrir muncul di Burung-burung Manyar karya Y.B. Mangunwijaya. Alkisah, sejumlah serdadu NICA menembaki mobilnya sehingga harus stop dengan terpaksa.

Ia diinterogasi dengan kasar tapi menanggapi dengan sabar. Sjahrir berujar, “Jenderal Christison menunggu saya. Harap jangan mengecewakan beliau.” Para keroco meradang. Salah seorang di antaranya mendaratkan gagang pistol di wajah perdana menteri pertama RI itu. Read the rest of this post »

ia adalah anwar

Posted Maret 14, 2008 by
Categories: Uncategorized

Havel dan Kafka,

Asia, termasuk Malaysia, sempoyongan dihajar krisis moneter. Pada Oktober 1997, majalah Time menemui Anwar Ibrahim, Deputi Perdana Menteri merangkap Menteri Keuangan Malaysia. Lebih penting lagi, ia adalah “putra mahkota” Mahathir Mohamad, sang Nomor Satu.

Perbincangan mengalir. Dimulai dari penyikapan atas krisis sampai menyentuh soal persilangan pendirian di antara Anwar dan Mahathir. Sejumlah kalangan menyebut Anwar terlalu keras menabuh genderang reformasi sehingga justru seperti “duri dalam daging.” Time menjadi perpanjangan rasa ingin tahu publik: lalu, apa yang membuatnya bertahan? Read the rest of this post »

castro dan nike

Posted Februari 20, 2008 by
Categories: Uncategorized

Havel dan Kafka,

Fidel Castro, yang menyatakan mundur kemarin, pernah bilang, “I am a Marxist-Leninist and I will be one until the last day of my life.” Uniknya, dia gemar mengenakan sepatu Nike untuk berolah raga pagi.

Nike dan Marxis-Leninis. Bukankah ini kombinasi yang ganjil?