mayestik

Havel dan Kafka,

/1./
Matahari belum sepenuh hati memamerkan diri. Tapi, muncul hasrat mendesak-desak untuk segera dilunasi. Tiba-tiba, aku ingat Pasar Mayestik. Arloji menunjukkan pukul 08.10, saat aku memarkir kendaraan. Kelar urusan yang “genting dan penting” itu, aku sempatkan menelusuri sejenak lorong-lorong di sana, seraya membiarkan masa silam menggenangi kesadaran.

Ketika kanak-kanak, inilah pasar yang agak sering aku kunjungi. Keluarga kami tinggal di Rempoa. Tahu Bintaro? Rempoa sejatinya cuma terpisah sepelemparan batu dengan kawasan perumahan elit di selatan Jakarta itu. Rempoa-Mayestik berjarak sekitar 10 kilometer. Relatif dekat, apalagi tanpa kemacetan segila sekarang. Baca selebihnya »

istana

Juni 2008. Pada suatu Ahad pagi yang cerah, puluhan bocah perumahan kami berwisata ke Istana Merdeka, Jakarta. Hitung-hitung sebagai variasi dari liburan akhir pekan. Saya ikut mendampingi mereka.

Selama sekitar 30 menit kami berkeliling. Di pengujung acara, pada anak tangga istana, para pengunjung dipersilakan foto bersama. Buat kenang-kenangan. Mata saya beredar sebentar. Ada enam pilar di beranda. Besar dan putih. Lambang negara bertengger gagah di puncak. Lapangan Monas membentang luas di seberang. Saya tertegun. Baca selebihnya »

oh, crocs…

Dua hari tak menjelajahi Senayan City, hati saya ciut siang tadi. Di lantai delapan mal mewah itu ratusan orang antre. Bukan, mereka bukan menanti bantuan langsung tunai (BLT). Sebagaimana kebanyakan pengunjung, mereka terlihat jelas berasal dari kalangan menengah atas. Orang-orang yang, kayaknya, kedap dari terjangan krisis. Trendi dan wangi. Tua dan muda.

Tuan dan Puan, di sana sedang berlangsung program diskon gede-gedean dari Crocs, produk sandal dan sepatu asal Colorado, Amerika Serikat. Memang menggiurkan. Dari harga Rp 400 ribuan, kini Anda bisa menentengnya pulang dengan hanya merogoh kocek Rp 100 ribuan. Dan, berbeda dengan antrean BLT, mereka berbaris dalam kepungan udara sejuk, bukan dengan kepala terbakar matahari. Mereka diminta antre lantaran jika semua masuk sekaligus hanya kekacauan yang dipetik. Luas ruang tak sebanding dengan jumlah yang datang. Baca selebihnya »

ajakan dari mimbar atau surat untuk nurcholish madjid

cak nur,

saya buka lagi buku yang sampulnya telah koyak oleh kafka, anak saya. terbit tahun lalu dengan judul all you need is love: cak nur di mata anak-anak muda, kitab ini memuat 30 esai. salah satu yang paling menarik perhatian adalah tuturan hikmat darmawan.

ia berkisah, di pertengahan 1990-an, di mimbar jumat itu anda menyarankan para jamaah untuk menonton the name of the rose. kok bisa-bisanya, cak? film tersebut dibikin berdasarkan novel dengan judul serupa karya ahli semiotika umberto eco. pokok kisahnya adalah misteri serangkaian pembunuhan di sebuah biara katolik di abad pertengahan. Baca selebihnya »

sjahrir, seabad

Havel dan Kafka,

7 MARET 1935. BARU BEBERAPA HARI Sutan Sjahrir menjalani pengasingan di Boven Digul. Di Renungan Indonesia, ia melukiskan pembagian kategori orang-orang buangan: “orang jang suka bekerdja” dan “orang jang disebut naturalis.” Golongan pertama adalah mereka yang bersedia melakukan pekerjaan untuk rezim kolonial Belanda: menjadi pegawai polisi, guru, atau juru rawat. Dengan memilih ini, yang bersangkutan memperoleh upah 40 sen sehari plus tunjangan beras 18 kilogram saban bulan.

(Renungan Indonesia merupakan terjemahan dari Indonesische Overpeinzingen yang dilakukan HB Jassin dan terbit pertama kali pada 1947. Buku itu adalah antologi catatan harian Sjahrir selama melakoni pengasingan di Digul dan Banda Neira.) Baca selebihnya »

jangan mengeluh, tulis saja versimu!

Havel dan Kafka,

/1./
Lantaran pekerjaan, saban pekan aku mesti mengetuk pintu Wikipedia. Lalu, bercengkerama dengannya. Aku membayangkan, jika pekerjaan ini dilakoni sebelum 2001, betapa menyita energi dan waktu. Hanya dengan membuka Wikipedia, sim sala bim, informasi yang aku incar melesat ke permukaan. Dalam hitungan beberapa detik.

Wikipedia? Ah, pasti cukup banyak di antara orang-orang yang mencibir: “Masak pseudo-ensiklopedia kayak gitu dipercaya…” Mari kita mudik sejenak ke 2001. Jimmy Wales, seorang pengusaha tajir, mulai membangun sebuah ensiklopedia online dengan cara yang benar-benar baru. Revolusioner. Dia menamainya “Wikipedia.” Dalam bahasa Hawaii, Wiki bermakna “cepat.” Baca selebihnya »

bono, klein, bonoisasi

Havel dan Kafka,

Paul David Hewson alias Bono tak henti membetot perhatian. Sejak pertengahan Januari 2009, kolom-kolom vokalis U2 ini bisa dinikmati di The New York Times. Tentu, ini bukan kali pertama Bono menulis. Dalam beberapa edisi Rolling Stone, ia juga diminta menyumbang esai. Bahkan, ia menyusun kata pengantar untuk buku Jeffrey D. Sach, The End of Poverty (2005).

Pada kolom pertamanya di Times, agak di luar dugaan, ia tak berkisah soal konflik Palestina-Israel, krisis ekonomi global, atau kehadiran Barack Obama di pentas politik Amerika. Alih-alih demikian, ia menulis tentang Frank Sinatra: perjumpaan dan kekagumannya pada penyanyi legendaris tersebut. Baca selebihnya »

sketsa buat havel yang berulang tahun

hujan berkunjung terlampau kerap. boleh jadi ia hanya ingin berlaku akrab. pepohonan yang kuyup. trotoar yang redup. kita dibuat salah tingkah. celakanya lagi, ia terlalu introvert. datang lalu lebih banyak diam.

susah kita memahami jalan pikiran hujan. sedikit terbantu lantaran ia beberapa kali melempar note di akun facebook-nya. rata-rata ringkas, hanya dua atau tiga alenea.

meski introvert, hujan jauh dari sikap dogmatis. ia pintar membikin kita terkejut. suatu hari, tak mengetuk pintu, ia telah tiba di ruang tamu dan berkata, ”saya kedinginan. bisakah saya minta teh panas dengan gula sedikit saja? ”

cinere, 14 januari 2009

surat untuk munir

Havel dan Kafka,

Tersebutlah sebuah kemuraman yang mengurung. Menghimpit.  Ini ceritanya.

——————————–

Cak Munir,

Tiba juga 2009. Ya, telah lima tahun berlalu. Tapi, perjalanan kasus pembunuhan Anda terus dibikin buntu, berhenti di sebuah mata rantai bernama Pollycarpus Budihari Priyanto. Padahal, akal sehat siapa yang bisa diyakinkan bahwa Pollycarpus memang yang mengatur kejahatan itu? Padahal, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pernah bilang, penyingkapan kejahatan itu adalah test of our history.

Tentu, pasti ada juga orang yang mensyukuri situasi ini. Mereka pikir, kematian sampeyan adalah yang terbaik buat Indonesia. Mereka yakin, Anda adalah pengkhianat bangsa. Ya, saya jadi teringat cerita pendek Seno Gumira Ajidarma berjudul Keroncong Pembunuhan. Baca selebihnya »

milan kundera, adam malik, dan “proyek lupa”

Havel dan Kafka,

Oktober silam, kabar tak sedap menerpa Milan Kundera. Czech Institute for Studies of Totalitarian Regimes menyitir laporan kepolisan bahwa penulis terkenal itu menjadi informan bagi penangkapan Miroslav Dvoracek, bekas pilot yang dituduh bekerja untuk kepentingan Amerika Serikat. Dvoracek akhirnya dihukum 21 tahun penjara.

Kejadian itu berlangsung pada 1950 dan Kundera baru berusia 21. Saat itu, ia belum lagi menghasilkan monumen-monumen sastra seperti The Unbearable Lightness of Being, The Book of Laughter and Forgetting, atau Immortality. Delapan belas tahun kemudian, tank-tank Uni Soviet masuk ke kampung halamannya dan mengoyak demokrasi di sana. Baca selebihnya »

Halaman Berikutnya »