Kemenangan yang digenggam cuma sejenak membuat Jayakatwang girang. Selebihnya, gundah berkepanjangan. Demikian Arswendo Atmowiloto mengisahkan dalam Senopati Pamungkas yang pertama kali muncul pada 1984.
Jayakatwang pun memanggil Ugrawe, sang patih-cum-jago silat nomor wahid, dan Rawikara, putra mahkotanya. “…sebentar lagi aku berada di singgasana ini selama seratus hari. Masih saja belum hilang bayangan yang mengerikan. Mayat-mayat berjatuhan, banjir darah, erangan orang-orang yang kuhormati lahir-batin…Kadang aku berpikir sendiri, apakah tindakan yang kulakukan bukan suatu kekeliruan yang bakal dikutuk anak cucuku besok,” ujar raja itu. Read the rest of this entry »